Adyanti menganggap akun anaknya sebagai ruang menyimpan memori yang suatu hari bisa dikenang bersama. Meski demikian, rasa khawatir tetap ada.

"Ada kekhawatiran pasti ya. Untungnya sejauh ini masih berjalan baik-baik saja.

Akunnya cuma aku yang pegang dan masih pakai data orang tua semua," ujarnya.

Karena itu, dia menetapkan sejumlah batasan.

Pengikut akun dipilih satu per satu, akun mencurigakan langsung diblokir, dan dia tidak pernah mengunggah informasi yang bisa mengungkap rutinitas anak seperti jam sekolah, jadwal les, atau lokasi yang dikunjungi secara langsung.

Bahkan, Adyanti sudah memikirkan masa depan akun tersebut. Menurutnya, ketika Bintang sudah cukup dewasa, seluruh kendali akun akan diserahkan kepada sang anak.

"Kalau nanti dia mau lanjut, ya silakan. Tapi kalau maunya ditutup, ya akan aku tutup.

Senyamannya anak saja," ujarnya.

Berbeda dengan Adyanti, Riska Rahman memilih jalan yang nyaris berlawanan. Selama ini, dia hampir tidak pernah memperlihatkan wajah anaknya di media sosial.

Keputusan itu diambil karena ia merasa risiko yang mengintai jauh lebih besar dibanding manfaatnya.

"Kami sadar kalau share wajah dan data anak di media sosial kemungkinan besar bisa disalahgunakan orang lain.

Bisa hal sederhana seperti dipakai jadi foto profil atau stiker, sampai kejahatan siber," kata Riska.

Selain persoalan privasi, dia juga memiliki alasan religius. Menurutnya, tidak semua kebahagiaan harus diumumkan kepada publik.

"Karena kami melihat lebih banyak mudaratnya, lebih baik jadi memori pribadi saja atau dibagikan ke keluarga terdekat," ujarnya.

Kalaupun harus mengunggah foto keluarga, Riska punya aturan sendiri. Wajah anak diambil dari belakang, dari samping, atau ditutupi emoji.

Bahkan kepada teman-teman dekat, dia meminta agar wajah anaknya ikut disamarkan jika foto tersebut hendak dipublikasikan.