Kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Direktur Utama Kebun Binatang Surabaya (KBS), Chairul Anwar, menjadi sorotan publik.

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkannya sebagai tersangka atas dugaan penyalahgunaan anggaran operasional, termasuk dana pakan satwa.

>>> 5 Benda Pembawa Hoki di Meja Kerja Menurut Feng Shui, Bikin Rezeki Lancar

Kerugian negara diperkirakan mencapai Rp10,2 miliar selama periode 2016 hingga 2024.

Anggaran yang seharusnya digunakan untuk pakan dan pemeliharaan satwa diduga dialihkan untuk pengeluaran tidak sesuai peruntukan, transaksi fiktif, hingga kepentingan pribadi.

Di tengah kasus tersebut, perhatian masyarakat tertuju pada kondisi hewan-hewan di KBS. Pihak pengelola memastikan operasional tetap berjalan normal dan kebutuhan pakan satwa terus dipenuhi sesuai standar.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebut koleksi hewan di KBS dalam kondisi terawat dan sehat pasca lengsernya Chairul Anwar pada 2024.

KBS merupakan salah satu kebun binatang tertua di Indonesia dengan ratusan spesies satwa dari berbagai belahan dunia.

>>> OJK Cabut Izin Usaha Penjamin Emisi Efek PT Ekuator Swarna Sekuritas

Sejarah dan Koleksi Satwa Kebun Binatang Surabaya

Kebun Binatang Surabaya berlokasi di Jalan Setail No. 1, Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Jawa Timur. Tempat konservasi ini didirikan pada 31 Agustus 1916 oleh H.F.

K. Kommer dengan nama Vereeniging Soerabaiasche Planten-en Dierentuin.

Awalnya berlokasi di Kaliondo, kemudian dipindahkan ke Groedo pada 1918, dan akhirnya menempati lokasi di Darmo. Pada 1939 luas areanya mencapai sekitar 15 hektare.

KBS terus berkembang sebagai lembaga konservasi dan destinasi wisata edukasi. Pada era 1970-an, KBS dikenal sebagai salah satu kebun binatang dengan koleksi satwa terlengkap di Asia Tenggara.

>>> Hari Anak 2026, Pertamina Trans Kontinental Ajak Anak Jaga Laut

Saat ini, KBS memiliki ratusan koleksi satwa dari berbagai belahan dunia yang dikelompokkan berdasarkan kelas mamalia, aves (burung), reptil, pisces (ikan), dan primata.