>>> Menteri Dody Ambil Alih Langsung Persetujuan Cuti ASN Kementerian PU

Lebih jauh, Yanuar menilai masuknya isu domestik ke dalam pusaran perkara korupsi bisa menjadi indikasi benturan kepentingan yang lebih besar.

Pola tersebut sering digunakan untuk melemahkan legitimasi seseorang di hadapan masyarakat.

"Ketika instrumen isu wanita dimasukkan ke dalam pusaran konflik hukum, hal ini sering kali menjadi tanda adanya benturan kepentingan yang lebih besar di balik layar.

Pihak-pihak tertentu sengaja melempar isu sensitif ini demi melemahkan posisi tawar atau legitimasi hukum dari target yang bersangkutan di mata masyarakat luas," paparnya.

Meski demikian, Yanuar menegaskan bahwa sikap kritis terhadap isu pribadi bukan berarti membela Febrie dari perkara dugaan korupsi.

Ia menekankan proses penyidikan dan persidangan harus tetap berjalan transparan berdasarkan fakta hukum.

Yanuar juga mengingatkan bahwa penegakan hukum yang kredibel tidak boleh dicampur dengan praktik pembunuhan karakter. "Penegakan hukum yang bersih tidak boleh menggunakan cara-cara kotor.

Menyerang wilayah privat dengan isu yang kebenarannya sangat meragukan merupakan tindakan manipulatif yang justru mencederai muruah hukum itu sendiri.

Keadilan harus ditegakkan dengan bukti dan fakta empiris, bukan dengan eksploitasi rumor moralitas," pungkasnya.

Belakangan, nama advokat Yuenchi Arwindi ramai dikaitkan dengan perkara Febrie. Di media sosial, ia disebut sebagai "wanita simpanan" hingga diduga menjadi tempat penitipan aset.

Namun, tuduhan tersebut tidak pernah tercantum dalam keterangan resmi penyidik. Yuenchi membantah seluruh tuduhan melalui video klarifikasi pada 15 Juli 2026.

>>> 5 Kapal Induk Terbesar di Dunia: Raksasa Laut yang Mengagumkan

"Saya tidak pernah bertemu dengan beliau ataupun melakukan komunikasi melalui telepon, pesan, serta komunikasi lainnya," katanya.