Gangguan Telinga Langka yang Menghambat Comeback IU
Penyanyi dan aktris K-pop IU menjadi sorotan setelah gangguan telinga langka yang dideritanya memaksa penundaan album baru dan pembatalan konser September.
Pada Senin (22/7), IU, 33 tahun, mengungkapkan kondisinya melalui platform komunikasi penggemar Berriz. Ia menjelaskan bahwa gejala patulous Eustachian tube (PET) dysfunction mengganggu kemampuannya bernyanyi.
>>> Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan 'Agent Kim Reactivated' Pimpin Tayangan Netflix
"Meski tidak memengaruhi kehidupan sehari-hari, gejalanya menetap siang dan malam, sehingga sulit mempertahankan kondisi saat bernyanyi," tulis IU, meminta maaf atas perubahan jadwal.
Apa Itu Patulous Eustachian Tube Dysfunction?
PET dysfunction terjadi ketika saluran Eustachius, yang menghubungkan telinga tengah ke bagian belakang hidung, tetap terbuka secara abnormal.
Saluran ini biasanya tertutup kecuali saat menelan atau menguap.
Kondisi ini menyebabkan udara dan suara terus mengalir ke telinga tengah, mengakibatkan autophony, yaitu seseorang mendengar suara napas atau bicaranya sendiri dengan keras di dalam kepala.
"Pasien mendengar suara mereka sendiri bergema seperti di dalam gua, yang sangat menyiksa bagi penyanyi yang sensitif terhadap suara," jelas Profesor Jung Jin-sei dari Rumah Sakit Severance.
Ia menambahkan, jika sensasi penuh di telinga atau gema hilang sementara saat membungkuk 90 derajat, kemungkinan besar itu adalah PET dysfunction.
>>> BTS Rilis Live Clip 'NORMAL' di Tengah Tur 'ARIRANG' yang Tak Terhentikan
Menurut para ahli, kondisi ini jarang bawaan lahir dan lebih sering dipicu faktor eksternal, terutama penurunan berat badan drastis dan kelelahan.
Penurunan berat badan cepat akibat diet ekstrem menyebabkan jaringan lemak dan otot di sekitar saluran Eustachius menyusut, sehingga saluran tidak bisa menutup dengan benar.
Karena itu, gangguan ini relatif umum terjadi pada wanita muda yang kurus.
Profesional yang sangat bergantung pada suara, seperti penyanyi, guru, dan operator call center, sangat rentan terhadap gejalanya.
Aktivitas fisik juga dapat memperburuk kondisi, karena napas berat saat olahraga bergema lebih keras di dalam kepala.
>>> Korea Suntik Rp1,5 Triliun untuk AI demi Dorong Gelombang Baru K-Culture
Perawatan berkisar dari perubahan kebiasaan sederhana, seperti menambah berat badan dan minum lebih banyak air, hingga operasi atau prosedur medis untuk kasus parah jika perawatan dasar tidak membantu.
Update Terbaru
Aston Martin Vanquish 25: Hanya 50 Unit Edisi Spesial V12
Rabu / 22-07-2026, 14:40 WIB
Menteri India Buka Suara Usai Dituntut Mundur oleh Partai Kecoak
Rabu / 22-07-2026, 14:40 WIB
Sudaryono Ungkap Nasib Kursi Wamentan Usai Jadi Kepala BGN
Rabu / 22-07-2026, 14:40 WIB
Pasker ID Bantu Warga RI Temukan Lowongan Kerja dengan Mudah
Rabu / 22-07-2026, 14:35 WIB
Jorge Jesus Pertahankan Ronaldo di Timnas Portugal
Rabu / 22-07-2026, 14:35 WIB
Pemilik Restoran Michelin di Korsel Terancam Penjara karena Sajikan Semut
Rabu / 22-07-2026, 14:35 WIB
Mediasi Hak Asuh Anak Ruben vs Sarwendah Berlanjut 6 Agustus
Rabu / 22-07-2026, 14:35 WIB
Instagram Kini Izinkan Ganti Audio di Postingan Tanpa Hilang Engagement
Rabu / 22-07-2026, 14:35 WIB
Apple Siap Luncurkan Program Sewa Perangkat Apple Upgrade Pekan Depan
Rabu / 22-07-2026, 14:35 WIB
10 Puisi Hari Anak yang Menyentuh Hati, Cocok untuk Lomba dan Upacara
Rabu / 22-07-2026, 14:35 WIB
4 Contoh Teks Doa Hari Anak Nasional 2026 Penuh Harapan untuk Sekolah
Rabu / 22-07-2026, 14:34 WIB
Apakah Boleh Olahraga saat Sakit? Ini Penjelasan Dokter agar Tak Salah Langkah
Rabu / 22-07-2026, 14:34 WIB
Link Cek Desil Kemensos Juli 2026, Begini Cara Mengetahui Status DTSEN Pakai NIK KTP
Rabu / 22-07-2026, 14:34 WIB







