Megawati Kenang 30 Tahun Kudatuli: Saya Sedih, Tapi Enggak Menangis
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kembali mengenang peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Kudatuli. Ia mengaku hingga kini tidak mengerti mengapa peristiwa itu terjadi.
Megawati hadir dalam pameran memperingati 30 tahun Kudatuli di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).
>>> Bandara di China Rawat Kucing Liar, Dipuji Netizen
Dalam pidatonya, ia menyatakan kebingungannya.
"Saya sendiri sampai hari ini tidak mengerti? Meskipun dalam batin saya mengerti," kata Megawati usai berkeliling melihat foto dokumentasi pameran.
Menurut Megawati, kantor PDIP (dulu PDI) di Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat adalah kantor sah yang diberikan negara.
Kantor itu bersebelahan dengan PPP.
"Tempatnya saja sah. Itu diberikan oleh negara, bersebelahan dengan PPP.
Jadi saya tuh suka heran, kenapa kok diserang ya?" ujarnya.
Presiden kelima RI itu mengaku lebih heran karena penyerangan juga dilakukan oleh aparat negara. "Dan serangnya itu juga bukan dari luar, dari aparat kita.
Saya suka marah-marah loh," katanya.
Kini, Megawati mengenang Kudatuli sebagai simbol ketidakadilan. Ia heran penyerangan terjadi hanya karena PDI kala itu menang pemilu.
>>> Atlet Golf Diduga Diculik, Polisi Sebut Belum Ada Permintaan Tebusan
"Lah tempatnya aja sah. Saya didukung juga sah.
Tapi kenapa karena saya yang menang lalu kok saya dibeginikan?" katanya.
Megawati menegaskan dirinya bukan provokator, melainkan orang yang memiliki harga diri. Ia mengaku sedih saat mengenang peristiwa tersebut.
"Saya sedih loh. Tapi saya enggak menangis.
Karena buat saya menangis tuh cengeng. Tapi di dalam hati saya, saya perih sekali," ujar Megawati.
Kudatuli dikenang sebagai sejarah kelam di akhir kepemimpinan Presiden Soeharto. Peristiwa itu dipicu oleh dualisme kepemimpinan PDI antara Megawati dan Soerjadi sebagai proksi pemerintah.
Soeharto yang gusar dengan popularitas Megawati menggelar kongres tandingan di Medan pada Juni 1996 dan menetapkan Soerjadi sebagai ketua umum.
Megawati menolak kongres tersebut dan mempertahankan kantor partai.
Sebulan setelah kongres, Kudatuli pecah. Soerjadi mengerahkan massa pendukungnya dibantu pemerintah dan aparat militer untuk mengambil alih kantor partai.
>>> Komdigi Tetapkan Telkomsel, XLSmart, Indosat Pemenang Lelang Frekuensi
Menurut temuan Komnas HAM, lima orang meninggal selama kerusuhan, 149 cedera, 23 orang hilang, dan 136 ditahan.
Update Terbaru
Game Boy Pocket Berusia 30 Tahun, Warisannya Masih Terasa di Genggaman Modern
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Ratusan Pemain Old School RuneScape Jadi Biksu dan Picu Perang Suci
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Mushoku Tensei III Episode 1-4: Kisah Eris dan Kebahagiaan Rudeus
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Manga Heisei Haizan-hei ☆ Sumire-chan Hiatus karena Cuti Melahirkan
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
Wamen Irene Dorong Tenun Sumba Barat Daya Naik Kelas Lewat Storytelling
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
PTPN I Fokus pada Lima Pilar untuk Transformasi Agroindustri
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
Google Perkenalkan Koleksi untuk Atasi Notebook Gemini yang Berantakan
Rabu / 22-07-2026, 03:22 WIB
Moto G Play (2024) Kini Hanya $100, Ponsel Budget Terbaik
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Nashville Gelar Konferensi Keamanan Kota untuk Pemimpin Penegak Hukum
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Indonesia Terbitkan Panda Bonds Senilai 1 Miliar Dolar AS
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Mertua Joseph Duggar Akan Diperiksa dalam Kasus Pelecehan Anak
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Melania Trump Minta Sanksi untuk Jurnalis Michael Wolff
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Carole Radziwill Bantah Terlibat Kasus Epstein di RHONY
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Putra Claude Lemieux Ungkap Legenda NHL Kambuh Kecanduan Seks
Rabu / 22-07-2026, 03:19 WIB







