Pemerintah memperkirakan dua tahun ke depan akan difokuskan untuk menyiapkan industri pendukung sebelum penerapan mandatori E20 dilakukan secara penuh.

"Industrinya di mana? Yaitu bahan bakunya adalah singkong, tebu, kemudian jagung dan beberapa komoditas lain.

Nah, satu-dua tahun ini kita melakukan persiapan, setelah itu kita mandatori full E20," tutur Bahlil.

Untuk mendukung pasokan bahan baku, pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan perkebunan tebu yang terintegrasi dengan industri hilirisasi. Konsep tersebut mengadopsi model yang telah diterapkan di Brasil.

"Di Brasil itu semua mekanisasi dan dia bisa membuat industrinya itu dua model. Begitu harga etanolnya naik, dia akan di-switch ke etanol.

Tapi begitu harga gulanya naik, dia akan switch ke gula.

Jadi dua model ini akan kita lakukan dan ini sedang dilakukan pematangan terhadap beberapa industri dan perusahaan yang akan kembangkan," ujar Bahlil.

Selain pengembangan E10 dan E20, Bahlil mengatakan pemerintah juga tengah mengkaji peningkatan mandatori biodiesel dari B50 menjadi B60 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Perintah Bapak Presiden (Prabowo) juga harus segera kita mempelajari, mengkaji kemungkinan untuk B60. Dan sekarang kita lagi lakukan kajian," ujarnya.

Penerapan bensin campuran etanol 10 persen menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengurangi impor bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

>>> Jennie BLACKPINK Rilis Single Baru "Less Than a Lover" pada 24 Juli

Saat ini, Pertamina baru memasarkan BBM berbasis etanol dengan kadar 5 persen melalui produk Pertamax Green. Pemerintah menargetkan penerapan E10 dilakukan secara lebih luas sebelum berlanjut ke E20.