Pemerintah India terus mempertahankan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bensin campuran etanol 20 persen (E20). Klaimnya, BBM E20 tidak berisiko terhadap mesin mobil baru maupun lawas.

Menteri Perminyakan dan Gas Alam Suresh Gopi menyampaikan pernyataan itu untuk meyakinkan masyarakat.

>>> Wellnest Fest Vol 2 Dimulai, Pengunjung Antusias di Hari Pertama

Hal ini menyusul kekhawatiran akan protes dan kritik bahwa campuran E20 mengurangi efisiensi dan kinerja mesin kendaraan.

Sejumlah pengendara mempertanyakan apakah kendaraan lama yang awalnya dirancang untuk campuran etanol lebih rendah berisiko mengalami korosi, keausan, atau penurunan performa.

Pertanyaan itu menjadi sorotan di media sosial India.

Sejauh ini, pemerintah India belum menerima keluhan tentang penurunan kinerja kendaraan, kerusakan mesin, korosi, dan masalah pompa bahan bakar terkait penggunaan E20.

Menurut Gopi, kendaraan yang dirancang untuk E10 hanya mengalami penurunan efisiensi bahan bakar marginal sebesar 3 hingga 5 persen saat menggunakan bensin E20.

"Seandainya pencampuran etanol menyebabkan kerusakan sistemik pada mesin atau sistem bahan bakar, kegagalan tersebut akan mengakibatkan klaim garansi skala besar, kampanye perbaikan, dan keluhan konsumen yang meluas, yang semuanya belum dilaporkan," ucap Gopi.

Bensin campuran etanol 20 persen menjadi satu-satunya bahan bakar yang dijual di 90 ribu pompa bensin di India pada akhir 2025.

Kondisi itu menyebabkan kegemparan di kalangan pengendara.

Merespons Banjir Kritik

Kementerian Informasi dan Penyiaran India menggelar konferensi pers pada 4 Juli bersama produsen Maruti Suzuki, Toyota, Hyundai, Hero MotoCorp, dan Bajaj.

Maruti Suzuki mengklaim telah menguji kendaraan era E10 dengan bahan bakar E20 tanpa temuan korosi atau ausan abnormal.

Hal ini didukung data servis 28,4 juta kendaraan sepanjang tahun fiskal 2025-2026, termasuk lebih dari 15 juta unit berusia di atas tiga tahun, tanpa masalah kerusakan terkait E20.