Keputusan casting untuk film The Lord of the Rings: The Hunt for Gollum menuai kritik karena seluruh pemeran utama berkulit putih.

Sutradara Andy Serkis pun angkat bicara.

>>> Michael Edwards Tinggalkan Jabatan di FSG, Liverpool Hadapi Transisi

Dalam wawancara dengan BBC, Serkis menyebut pengaruh mitologi Nordik pada karya J. R.

R. Tolkien sebagai alasan.

Ia mengatakan Shire digambarkan sebagai komunitas yang sangat putih dan tidak terlalu peduli dengan dunia luar.

Serkis menambahkan bahwa film ini tidak akan melakukan casting yang hanya untuk memenuhi kuota politik. Namun, pernyataannya justru menuai perdebatan.

Argumen yang Tidak Meyakinkan

Banyak pihak menilai pembelaan Serkis tidak masuk akal. Mereka berpendapat bahwa Tolkien tidak mungkin membayangkan perdebatan tentang keragaman ras di dunia fantasi.

Selain itu, The Hunt for Gollum terikat dengan trilogi Peter Jackson yang sudah mengambil banyak kebebasan dari sumber aslinya.

>>> Harapan untuk Acara Peluncuran Pixel 11: Lebih dari Sekadar Ponsel Baru

Jika Serkis ingin menjaga konsistensi visual, itu lebih masuk akal daripada menyalahkan Tolkien.

Kritikus juga menyoroti bahwa deskripsi fisik dalam buku tidak selalu diikuti secara harfiah. Misalnya, Aragorn digambarkan sebagai raksasa Númenórean, tetapi Viggo Mortensen hanya setinggi 5 kaki 11 inci.

Adaptasi adalah Interpretasi

Setiap adaptasi pasti melibatkan interpretasi.

Peter Jackson mengubah alur waktu Tolkien, dan Christopher Nolan dalam film The Odyssey-nya memilih Lupita Nyong'o sebagai Helen of Troy.

Tidak ada yang keberatan dengan perubahan tersebut.

Jadi, Serkis berhak membuat pilihan casting sendiri, tetapi mengklaim bahwa Tolkien yang memutuskan adalah langkah yang terlalu jauh.

>>> Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun di Semester I 2026, Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja

Perdebatan ini menunjukkan bahwa isu keragaman dalam fantasi masih menjadi topik sensitif. Namun, yang jelas, mitologi Nordik tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan kurangnya representasi.