Sejumlah anggota Komisi X memberikan masukan terkait penguatan anggaran untuk pelestarian naskah kuno, pengukuran kinerja berbasis hasil, peningkatan tata kelola aset, dan dukungan pembiayaan literasi nasional.

Andi Muawiyah Ramly menyoroti potensi dampak keterbatasan anggaran terhadap pelestarian naskah kuno.

Karmila Sari mengingatkan bahwa realisasi anggaran yang tinggi harus diikuti dengan pengukuran capaian berorientasi hasil.

Ledia Hanifa Amaliah menekankan bahwa kebutuhan anggaran Perpusnas harus diukur berdasarkan dampak literasi bagi masyarakat. MY Esti Wijayati menyoroti pentingnya dukungan anggaran ke depan dan penyempurnaan pengelolaan aset.

Menanggapi masukan tersebut, Aminudin menegaskan bahwa dukungan Komisi X, antusiasme masyarakat, dan dedikasi pegiat literasi menjadi energi bagi Perpusnas.

Ia menyebut bahwa semangat publik dan pengguna Perpusnas justru terus meningkat, begitu pula kegigihan pegiat literasi dan pelestari naskah.

Perpusnas terus memperluas kolaborasi pendanaan melalui kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, komunitas pelestari naskah, lembaga filantropi, dan mitra internasional.

Kolaborasi ini memungkinkan program preservasi naskah di Aceh, Sumatera Barat, dan Keraton Surakarta tetap berjalan.

Dalam kesimpulan rapat, Komisi X menerima penjelasan Perpusnas mengenai realisasi anggaran 2025 dan mendorong Perpusnas mempertahankan opini WTP.

Komisi X juga menekankan penguatan kualitas perencanaan, pengawasan, dan penganggaran berbasis hasil, serta dukungan anggaran untuk pelestarian dan digitalisasi naskah kuno, pengelolaan koleksi nasional, sinergi dengan pemerintah daerah, dan layanan perpustakaan.

>>> Zelensky: Rusia Jadikan Moskow Benteng dengan S-400, S-500, dan Pantsir

Perpusnas berkomitmen memperkuat tata kelola akuntabel, meningkatkan kualitas layanan, memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan, dan memperkuat ekosistem literasi nasional demi mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia.