Akibatnya, anak lebih memilih menyembunyikan masalah agar tidak dibandingkan lagi.

5. Memotong pembicaraan sebelum anak selesai bercerita.

Anak butuh waktu lebih lama menjelaskan sesuatu, terutama saat memproses emosi. Terlalu cepat menyela membuat anak merasa pendapatnya tidak penting.

Memberi kesempatan anak menyelesaikan cerita menunjukkan suara mereka dihargai.

6. Mengungkit kesalahan anak di kemudian hari.

Kepercayaan anak berkurang ketika cerita pribadi digunakan kembali saat konflik. Anak perlu tahu bahwa kejujuran tidak akan merugikan mereka.

7. Anak takut membuat orang tua khawatir atau kecewa.

Menurut organisasi Didi Hirsch, sebagian anak menyimpan masalah karena tidak ingin membebani orang tua.

Mereka juga merasa orang tua mungkin tidak memahami situasi atau langsung menyelesaikan masalah tanpa mendengar. Membangun empati bisa membantu anak merasa aman berbagi.

>>> Prabowo Buka Opsi Pangkas Anggaran Pertahanan demi Entaskan Kemiskinan

Memahami penyebab anak jarang bercerita dapat membantu orang tua memperbaiki cara berkomunikasi. Dengan begitu, hubungan orang tua dan anak bisa lebih terbuka dan penuh kepercayaan.