Anggota Alphabet Workers Union menyerahkan petisi berisi lebih dari 4.500 tanda tangan kepada CEO Google Sundar Pichai pada Kamis lalu.

Mereka mendesak perlindungan PHK yang kuat di tengah aliran dana miliaran dolar perusahaan teknologi ke pengembangan kecerdasan buatan (AI).

>>> Lazada Ajak Nobar di Rumah, Ini 6 Rekomendasi Produk untuk Suasana Stadion

Petisi tersebut menuntut jaminan paket pesangon, pembelian sukarela sebelum pengurangan tenaga kerja wajib di semua segmen produk, serta opsi mengubah pesangon menjadi cuti berbayar yang diperpanjang.

Pekerja juga mendesak Google menghapus peringkat kinerja yang dinilai mengutamakan kuota sewenang-wenang daripada prestasi kerja.

Google belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait tuntutan tersebut.

Keuntungan Besar vs. PHK

Parul Koul, presiden Alphabet Workers Union dan insinyur perangkat lunak Google, menyatakan bahwa perusahaan menikmati kesuksesan besar.

Ia menyoroti valuasi Google yang mencapai $4 triliun, meningkat empat kali lipat dalam enam tahun, untuk menegaskan bahwa PHK lebih mengutamakan keuntungan daripada pekerja.

"PHK ini bukan keputusan sulit, melainkan keuntungan yang diutamakan di atas orang-orang yang membuat perusahaan ini berjalan," kata Koul di luar kantor pusat California.

Koul menambahkan bahwa karyawan menghadapi pintu terkunci saat menyerahkan petisi, tetapi berhasil menitipkan dokumen kepada staf di kantor Pichai yang berjanji akan menyampaikannya.

"Petisi ini adalah umpan balik karyawan terbesar yang diterima Google tentang keamanan kerja," ujarnya.

>>> D-Topia: Game Puzzle Adventure Jepang Rilis 14 Juli 2026, Angkat Tema Kebahagiaan di Dunia yang Diatur AI

Upaya organisasi sebelumnya yang melibatkan ratusan pekerja di seluruh negeri tidak mendapat tanggapan dari pimpinan eksekutif.

"Kami telah mengorganisir aksi yang memobilisasi ratusan Googler di seluruh negeri untuk meningkatkan visibilitas dan perhatian terhadap masalah ini, namun manajemen Google memilih untuk mengabaikan kami," kata Koul.