Sebuah serangan drone pada Rabu, 15 Juli 2026, menewaskan kepala teknisi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia.

Peristiwa itu terjadi di dekat fasilitas tersebut dan memicu kecaman keras dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

>>> Kapal Selam WWII USS Silversides Tiba untuk Restorasi Galangan Kering

Kepala perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, Alexey Likhachev, melaporkan bahwa serangan itu menyasar sebuah kendaraan dinas di perbatasan area industri PLTN dan kota Enerhodar.

Akibat serangan tersebut, kepala teknisi Alexander Yakovlev dan sopir kendaraan Dmitry Filippov tewas.

Likhachev menyatakan bahwa insiden ini meningkatkan risiko keselamatan nuklir di seluruh Eropa. Ia juga mengungkapkan bahwa 13 orang telah tewas akibat aksi serupa dalam dua setengah bulan terakhir.

IAEA dengan cepat merespons laporan tersebut.

Badan itu memverifikasi bahwa tim pemantau tetap mereka di lokasi terus berupaya mencegah kecelakaan nuklir di reaktor nuklir terbesar di Eropa itu.

>>> Barcelona SC Hadapi Guayaquil City, Duel Spesial Damián Díaz

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menegaskan, "IAEA menyerukan penghentian segera semua serangan di atau dekat situs nuklir dan stafnya."

Grossi menekankan bahwa insiden tersebut merupakan serangan yang tidak dapat diterima terhadap manajemen fasilitas dan secara serius mengompromikan keselamatan nuklir regional secara keseluruhan.

Sementara itu, pasukan drone Ukraina melanjutkan kampanye militer yang lebih luas terhadap logistik Rusia.

Mereka mengklaim telah melakukan operasi ekstensif yang menargetkan kapal-kapal di Laut Hitam dan Laut Azov.

>>> The New York Times Ajukan Gugatan Tolak Panggilan Paksa DOJ

Komandan Pasukan Sistem Nirawak Ukraina, Robert Brovdi, menyatakan bahwa pasukannya telah menyerang beberapa kapal kargo dan kapal tanker Rusia bulan ini untuk mengganggu jalur transportasi maritim.