Yusuf mengingatkan bahwa biaya terlambat merespons gejolak eksternal lebih mahal daripada tindakan preemptive.

Meski begitu, dampak rem moneter sudah mulai terasa di sektor riil, seperti aktivitas manufaktur lemah dan pertumbuhan kredit UMKM stagnan.

Namun, ia menegaskan bahwa pangkal masalah lesunya ekspansi bukan semata bunga tinggi. Likuiditas perbankan masih memadai, tetapi permintaan pasar sedang melempem akibat daya beli masyarakat yang lemah.

Banyak pelaku usaha menunda ekspansi karena prospek permintaan belum kuat. Penurunan BI Rate belum tentu mendorong investasi, tetapi berisiko menambah tekanan terhadap rupiah.

Yusuf mendorong pembagian peran antara BI dan pemerintah. BI fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, sementara pemerintah menjaga kredibilitas fiskal dan memperkuat permintaan domestik.

Langkah konkret yang diperlukan meliputi optimalisasi devisa hasil ekspor, ketepatan sasaran subsidi bunga KUR, dan percepatan belanja negara ke sektor riil.

>>> Messi: Gila Bisa Main di Dua Final Piala Dunia Beruntun

Yang paling menentukan adalah permintaan pasar yang jelas.