Selama ini banyak orang mengira komponen paling mahal untuk diperbaiki pada mobil listrik adalah baterai utama bertegangan tinggi.

Namun, riset terbaru dari Warrantywise di Inggris justru menemukan hal berbeda.

>>> Manga Baru dari Mangaka 'There, Beneath the Water' Telah Dirilis

Berdasarkan analisis ribuan permintaan klaim garansi, masalah terbesar yang dialami pemilik kendaraan listrik (EV) bukanlah baterai. Kerusakan yang paling sering terjadi justru pada komponen listrik umum dan suspensi.

Data dari perusahaan penyedia garansi mobil di Inggris itu menunjukkan bahwa pola kerusakan EV mirip dengan mobil bermesin bensin atau diesel.

Baterai utama jarang mengalami gangguan dibandingkan bagian lainnya.

Kenaikan Biaya Perbaikan EV

Riset ini juga mencatat peningkatan rata-rata biaya perbaikan EV sebesar 10,7 persen antara 2024 dan 2025. Kenaikan tersebut dipengaruhi inflasi, biaya tenaga kerja, dan harga suku cadang.

>>> Indiana Fever Hadapi Golden State Valkyries dalam Laga Puncak WNBA

Temuan ini berlaku di pasar Inggris, namun relevan juga untuk pasar global termasuk Indonesia. Banyak konsumen masih ragu membeli EV bekas karena khawatir soal baterai.

Padahal, data menunjukkan baterai jarang rusak. Kekhawatiran soal baterai EV dinilai terlalu dibesar-besarkan.

Baterai memang bisa rusak, tetapi kasusnya relatif jarang dan biasanya masih ditanggung garansi pabrikan lebih lama.

>>> Marcello Hernandez Jadi Pembawa Acara ESPY Awards 2026 di New York

Sebaliknya, kerusakan pada sistem listrik kecil, suspensi, hingga baterai 12 volt justru lebih sering muncul. Hal ini menjadi catatan penting bagi calon pembeli mobil listrik bekas.