Bayang-bayang Prabowo Dinilai Masih Hantui Gibran, Pengamat: Dia Susah Diterima Publik

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai masih menghadapi tantangan besar dalam meraih penerimaan publik.
Pengamat politik menilai putra Presiden ke-7 Joko Widodo itu masih terlalu dibayangi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
>>> Pemerintah Pastikan Pengambilalihan KCIC Sudah Final, Tunggu Proses Administrasi
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti mengatakan persepsi publik terhadap Gibran belum sepenuhnya positif.
Menurutnya, kesan bahwa politikus muda itu sulit diterima masyarakat cukup kuat dan berpotensi memengaruhi dinamika politik menuju Pilpres 2029.
"Ada kesan yang saya baca bahwa dia ini susah diterima publik.
Saya kira kesan itu cukup kuat di tengah masyarakat," kata Ray dalam podcast "Hendri Satrio Official" yang dikutip Kamis (16/7).
Ray menjelaskan kondisi Gibran tidak terlepas dari posisinya sebagai wakil presiden yang mendampingi Prabowo. Di mata masyarakat, keduanya dinilai sebagai satu kesatuan dalam menjalankan pemerintahan.
Akibatnya, setiap kritik yang ditujukan kepada pemerintah kerap ikut menyeret nama Gibran. "Ketika ada orang berbicara negatif mengenai presiden, di dalamnya biasanya ada Gibran.
>>> Tips Maksimalkan Layar 7 Inci dan Baterai 8.000 mAh Xiaomi Redmi Note 17 2026
Jadi, keduanya dipandang sebagai satu paket yang tidak terpisahkan," ujarnya.
Menurut Ray, situasi Prabowo-Gibran berbeda dengan era Soeharto-Habibie. Saat Soeharto mundur pada 1998, publik masih melihat positif sosok Habibie sehingga ia bisa melanjutkan pemerintahan.
Sementara pada pemerintahan sekarang, publik lebih sering mengaitkan presiden dan wakil presiden sebagai satu kesatuan.
"Ketika Pak Harto diminta mundur, tuntutan itu belum tentu ditujukan juga kepada Pak Habibie. Situasinya berbeda dengan Prabowo dan Gibran," kata Ray.
Ray menilai persepsi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Gibran. Jika ingin membangun citra politik yang lebih mandiri, ia harus bisa keluar dari bayang-bayang Prabowo.
Menurutnya, selama publik masih melihat keduanya sebagai satu paket, penilaian terhadap pemerintahan akan berpengaruh langsung terhadap elektabilitas mereka.
>>> 16 Peraih Nobel Peringatkan Dampak AI pada Pekerjaan
Situasi itu menjadi faktor penting dalam membaca peta politik nasional menjelang Pilpres 2029.
Update Terbaru
Dev id Software yang Di-PHK Ragukan Masa Depan id Tech
Kamis / 16-07-2026, 06:07 WIB
AS Kembali Terapkan Blokade Laut di Pelabuhan Iran
Kamis / 16-07-2026, 06:07 WIB
Pria Terjebak di Bawah Dudukan Toilet Portabel Diselamatkan Petugas Pemadam Kebakaran Kansas City
Kamis / 16-07-2026, 06:07 WIB
Bintang '90 Day Fiancé' Armando Ditolak Masuk AS Saat Putrinya di ICU
Kamis / 16-07-2026, 06:07 WIB
Mason Haynes, Bodyguard Keluarga Kardashian, Tewas dalam Kecelakaan Mobil
Kamis / 16-07-2026, 06:06 WIB
Prancis Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026, Michael Olise Dihujani Kritik Pedas
Kamis / 16-07-2026, 06:06 WIB
Messi Berubah Jadi 'Ahli Assist', Argentina ke Final Piala Dunia 2026
Kamis / 16-07-2026, 06:06 WIB
Rumah Lamine Yamal Nyaris Dibobol Rampok saat Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia 2026
Kamis / 16-07-2026, 06:00 WIB
Honda Gantikan Google Assistant dengan Gemini di Model Terpilih
Kamis / 16-07-2026, 06:00 WIB
Jadwal Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026
Kamis / 16-07-2026, 06:00 WIB
Pria Malaysia Ditangkap karena Menguntit dan Mengendus Sepatu Mahasiswi
Kamis / 16-07-2026, 06:00 WIB
Enzo Fernandez, Pahlawan Bayangan Argentina ke Final Piala Dunia 2026
Kamis / 16-07-2026, 06:00 WIB
Kadin: Stabilitas Rupiah Lebih Penting dari Penurunan Suku Bunga
Kamis / 16-07-2026, 06:00 WIB
Ranking FIFA: Argentina Kini Nomor 1 Usai Kalahkan Inggris
Kamis / 16-07-2026, 05:56 WIB







