Sebanyak 26 karyawan menggugat Meta ke pengadilan federal Oakland, California, pada Senin (13/7) malam.

Mereka menuduh perusahaan menggunakan software berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diskriminatif dalam proses pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

>>> Menang Praperadilan, Penetapan Piche Kota sebagai Tersangka Kasus Dugaan Rudapaksa Dinyatakan Tidak Sah

Para penggugat yang mengajukan gugatan secara anonim ini menyatakan bahwa sistem AI Meta menyasar penyandang disabilitas, karyawan yang mengambil cuti medis, atau yang sedang hamil.

Mereka mengeklaim Meta melanggar hukum federal dan negara bagian yang melarang diskriminasi dan tindakan balasan terhadap pekerja tersebut.

Menurut berkas gugatan, Meta menggunakan sejumlah sistem internal berbasis AI untuk memberi skor dan menyusun peringkat karyawan dalam daftar PHK.

Sistem tersebut mencakup 'Meta mate', asisten model bahasa besar (LLM), sistem berbasis AI yang dilatih untuk melacak komunikasi dan dokumen kerja, serta skor produktivitas dari pemindaian keystrokes, tampilan layar, email, hingga riwayat browser.

Para penggugat berasal dari enam negara bagian berbeda, termasuk California dan New York, serta District of Columbia.

Mereka telah menerima pemberitahuan pada Mei bahwa masa kerja akan berakhir mulai 22 Juli.

>>> 5 Penyebab Anak Telat Bicara yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Mereka mengajukan putusan sela untuk memblokir Meta agar tidak merampungkan PHK tersebut sementara memperjuangkan tuntutan melalui arbitrase privat.

Perjanjian kerja di Meta mewajibkan penyelesaian perselisihan secara individu lewat arbitrase, tetapi aturan itu tidak berlaku untuk permohonan penangguhan sementara.

Juru bicara Meta menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. "Manajemen tenaga kerja dan keputusan organisasional sepenuhnya diambil oleh manusia, bukan oleh AI," katanya.

Kasus ini menjadi gugatan hukum pertama terhadap perusahaan besar di AS yang menentang dugaan penggunaan AI dalam PHK.

Meta sebelumnya merumahkan 10 persen dari total karyawan globalnya pada Mei, atau sekitar 8.000 orang, dan berencana melakukan pengurangan staf lanjutan akhir tahun ini.

Namun, CEO Mark Zuckerberg menyatakan tidak memproyeksikan PHK massal lagi untuk sisa tahun ini.

>>> 5 Penyebab Anak Telat Bicara yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Langkah efisiensi ini merupakan bagian dari perombakan besar-besaran seiring keputusan perusahaan untuk meningkatkan investasi di sektor AI serta mengintegrasikan agen AI dalam produk dan metode kerja internal.