BRIN baru-baru ini mengumumkan peningkatan anggaran riset hingga 50% dengan fokus pada ketahanan pangan, transisi energi, dan industri strategis.

Ketiga, riset tentang ketimpangan, kota, gender, dan kemitraan bersifat lintas-disiplin sehingga membutuhkan kolaborasi yang lebih kompleks. Sistem akademis yang masih berorientasi pada departemen tunggal menyulitkan jenis riset ini.

Perlunya Evaluasi Kebijakan

Peta riset ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pembuat kebijakan.

BRIN, Kemendikbudristek, dan perguruan tinggi perlu mengalokasikan dana hibah dan membentuk pusat riset baru yang menyasar isu-isu tertinggal.

Indonesia juga perlu memberi ruang lebih besar bagi penelitian yang menjawab persoalan yang paling dirasakan masyarakat, seperti kota layak huni, ketimpangan sosial, kesetaraan gender, dan kemitraan pembangunan.

>>> Bas Nijhuis Tahan Air Mata Kenang Rob Dieperink: Tragedi Sang Wasit Muda dan Dampak Mematikan dari Tuduhan Palsu

Dengan demikian, riset Indonesia tidak hanya menghasilkan lebih banyak publikasi, tetapi juga benar-benar membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat setiap hari.