Indonesia menunjukkan kemajuan dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Menurut evaluasi Bappenas, sekitar 62,7% dari 224 indikator SDGs sudah mengalami kemajuan.

Namun, prioritas riset nasional belum sejalan dengan kebutuhan pembangunan yang paling mendesak.

>>> Indonesia Perkuat Pasokan dan Distribusi untuk Kendalikan Inflasi

Data SDGs Center Universitas Padjadjaran memetakan 75.892 artikel ilmiah Indonesia di jurnal Q1 versi SCImago 2025.

Topik yang paling banyak diteliti adalah kesehatan dan kesejahteraan (SDG 3) dengan 6.634 artikel atau 8,74% dari total.

Industri, inovasi, dan infrastruktur (SDG 9) menempati posisi kedua dengan 5.651 artikel (7,45%).

Penelitian tentang ekosistem daratan (SDG 15) mencapai 5.258 artikel (6,93%), perdamaian, keadilan, dan kelembagaan (SDG 16) sebanyak 5.203 artikel (6,86%), serta pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8) sebanyak 4.288 artikel (5,65%).

Sayangnya, isu yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat justru mendapat perhatian sangat kecil.

Penelitian mengenai kota berkelanjutan (SDG 11) hanya sekitar 437 artikel atau kurang dari 1% dari total publikasi.

Kesenjangan gender (SDG 5) hanya diteliti dalam 494 artikel (0,65%), sementara pengurangan ketimpangan (SDG 10) hanya 558 artikel (0,74%).

Yang paling sedikit adalah kemitraan global (SDG 17) dengan 286 artikel (0,38%).

Faktor Struktural Penyebab Kesenjangan

Kesenjangan ini bukan kebetulan. Ada tiga faktor struktural yang memengaruhinya.

>>> Drama Pengasuhan Anak: Ruben Onsu Tegas Tegur Giorgio Antonio, Ingatkan Batas Peran Sebagai Pacar Sarwendah

Pertama, sistem akademis saat ini lebih mendorong pemilihan topik yang berpeluang terbit di jurnal internasional.

Ilmu kesehatan, teknik, dan ilmu alam memiliki metode yang lebih mudah dibandingkan lintas negara.

Kedua, pendanaan riset nasional belum secara eksplisit dipetakan ke SDG yang paling tertinggal.