Tes Psikologis ala Sufi: Mengukur Tingkat Keikhlasan Hati

Bagaimana cara kita menguji apakah hati kita benar-benar ikhlas atau hanya sedang pansos? Syekh Ali al-Khawash, seorang sufi agung asal Mesir dalam kitab Lawaqihul Anwar (halaman 17-18), memberikan sebuah "tes psikologis" yang sangat brilian:
 
Cobalah renungkan, jika ada orang lain yang melakukan amal kebaikan yang sama dengan Anda, lalu orang-orang justru lebih banyak mengikuti dan memuji orang tersebut, bagaimana reaksi hati Anda?
 
  1. Jika hati Anda lapang dan senang: Anda merasa lega karena ada orang lain yang mewakili Anda dalam melakukan kebaikan tersebut. Selamat, Anda termasuk orang yang ikhlas!
  2. Jika hati Anda sempit, kesal, dan merasa tersaingi: Anda merasa insecure karena kehilangan panggung dan popularitas. Hati-hati, hakikatnya Anda sedang terjebak dalam penyakit riya' dan cinta dunia.
 
Jika Anda mendapati hati Anda berbisik merasa tersaingi, segera lawan bisikan nafsu tersebut dengan merendahkan diri. Ucapkan dalam hati: إِنِّي مُعْتَمِدٌ عَلَى فَضْلِ اللهِ لَا عَلَى الْأَعْمَالِ. فَإِنْ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ، فَإنما هو برحمة الله تعالى لا بعملي “Sungguh aku mengandalkan anugerah Allah, bukan amal kebaikan yang aku lakukan. Bila nanti masuk surga, maka itu murni karena rahmat Allah Ta’ala, bukan karena amal perbuatanku.”
 
Orang yang ikhlas tidak akan pernah sibuk mendeklarasikan keikhlasannya, apalagi memamerkannya di hadapan jutaan mata di dunia maya. Sembunyikan amal kebaikan Anda sebagaimana Anda menyembunyikan aib dan dosa Anda.
 
Semoga datangnya bulan Safar yang bermakna "kosong" ini menjadi tamparan keras bagi kita. Agar kita tidak menjadi manusia yang "kosong" dari amal saleh di dunia, dan "kosong" dari timbangan kebaikan di akhirat kelak. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.