Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Memasuki Bulan Safar 1448 H yang Bermakna 'Kosong', Waspadai Bahaya Amal Kosong di Era Medsos!
Ukuran Teks
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, kita telah berpisah dengan bulan suci Muharram dan kini resmi memasuki bulan Safar 1448 Hijriyah, yang bertepatan pada pertengahan Juli 2026. Bagi para khatib dan umat Islam, momentum ini menjadi pengingat penting untuk terus merenungi makna di balik pergantian bulan-bulan Hijriyah.
Di tengah masyarakat, bulan Safar kerap kali dilekati oleh mitos-mitos yang keliru. Banyak yang menganggapnya sebagai "bulan sial". Padahal, dalam kacamata jurnalistik dakwah dan sejarah Islam, Safar menyimpan makna filosofis yang sangat dalam dan relevan, terutama di era digital saat ini.
Lantas, apa sebenarnya arti bulan Safar? Dan mengapa para ulama mengingatkan kita agar tidak sampai menjadi "kosong" di bulan ini? Simak ulasan lengkap dan teks khutbah Jumat edisi 17 Juli 2026 berikut ini.
Mengenal Bulan Safar dan Meluruskan Mitos 'Bulan Sial'
Secara bahasa, Safar bermakna "kosong" atau shifr. Mengapa dinamakan demikian? Imam Murtadha az-Zabidi dalam kitab magnum opus-nya, Tajul ‘Arusy (Juz XII, halaman 330), mencatat beberapa kisah sejarah di balik penamaan bulan ini.
Pertama, pada zaman dahulu kala di Jazirah Arab, bulan ini adalah waktu di mana orang-orang bepergian dan mengumpulkan perbekalan makanan dari berbagai tempat. Akibatnya, tempat-tempat penyimpanan makanan menjadi "kosong".
Kedua, ada riwayat yang menyebutkan bahwa pada bulan ini, kota Makkah menjadi "kosong" karena penduduknya serentak meninggalkan kota untuk keperluan dagang atau bepergian.
Ketiga, kisah ketiga menyebutkan bahwa suku-suku di Makkah kerap melakukan ekspedisi perang pada bulan ini, sehingga mereka membiarkan suku-suku lain yang mereka temui dalam kondisi "kosong" tak berdaya dan kehilangan harta.
Namun, penting untuk ditegaskan bahwa Islam sama sekali tidak membenarkan anggapan bahwa Safar adalah bulan sial atau bulan bala. Rasulullah SAW secara tegas menghapus迷信 (khurafat) ini dalam sabdanya: "La 'adwa wa la thiyarah wa la safara wa la hamata..." (Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada ramalan kesialan, tidak ada bulan Safar yang sial, dan tidak ada burung yang membawa kesialan). Safar adalah bulan yang sama dengan bulan lainnya, tempat di mana takdir dan rezeki hamba ditentukan oleh Allah SWT.
Editor: Hasyim Wijaya
Update Terbaru
Menemukan Kesejajaran: Bagaimana Yoga Mengubah Hubungan Saya dengan Skoliosis
Rabu / 15-07-2026, 14:10 WIB
Perkuat SDM Industri, Menperin Agus Gumiwang Gaspol Cetak Asesor Kompetensi
Rabu / 15-07-2026, 14:10 WIB
Accor dan Tropicana Bangun Mercure Living Genting Highlands dengan 1.443 Suite
Rabu / 15-07-2026, 14:10 WIB
Lineup dan Jadwal Timnas eFootball Indonesia di Asian Games 2026
Rabu / 15-07-2026, 14:07 WIB
Indonesia Blokir 3,7 Juta Situs Judi Online Sejak Oktober 2024
Rabu / 15-07-2026, 14:06 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi 444,4 Miliar Dolar AS pada Mei 2026
Rabu / 15-07-2026, 14:06 WIB
Harga Samsung Galaxy A17 5G Juli 2026 Naik: Bedah Lengkap Spesifikasi, Fitur AI, dan Pertimbangan Sebelum Membeli
Rabu / 15-07-2026, 13:54 WIB
Skotlandia Keluarkan Peringatan Kebakaran Hutan Tinggi di Tengah Gelombang Panas
Rabu / 15-07-2026, 13:49 WIB
OC Fair 2026 Dibuka di Costa Mesa dengan Batas Pengunjung Harian
Rabu / 15-07-2026, 13:49 WIB
Pria 83 Tahun di Belgia Kena Sifilis Langka, Awalnya Masuk UGD karena Gatal
Rabu / 15-07-2026, 13:49 WIB
Kekeringan Parah Picu Peringatan Kebakaran dan Larangan Selang di Inggris
Rabu / 15-07-2026, 13:45 WIB







