Inspirasi 'Kosong': Jangan Sampai Rumah dan Hati Kita Kosong dari Kebaikan

Lalu, inspirasi apa yang bisa kita ambil dari makna "kosong" tersebut? Para ulama mengajak kita untuk melakukan muhasabah (introspeksi). Jangan sampai Safar yang bermakna kosong, justru mencerminkan kondisi spiritual kita.
 
Jangan sampai bulan ini kita lalui begitu saja tanpa ada peningkatan amal. Lebih bahaya lagi, jangan sampai rumah-rumah kita "kosong" dari kebaikan, khususnya dari lantunan ayat suci Al-Qur'an.
 
Rasulullah SAW bersabda: إِنَّ أَصْفَرَ البُيُوتِ من الخَيْرِ البَيْتُ الصِّفْرُ من كتابِ اللَّهِ “Sungguh rumah yang paling kosong dari kebaikan adalah rumah yang kosong dari bacaan kitabullah Al-Qur’an.” (HR. at-Thabarani).
 
Bayangkan, di zaman di mana kita bisa mengakses ribuan ayat Al-Qur'an dan kajian hanya melalui smartphone, banyak rumah tangga Muslim yang justru "kosong" dari nilai-nilai rabbani. Suara televisi atau gadget lebih mendominasi daripada lantunan ayat suci.
 

Jebakan Era Digital: Ketika Amal Kebaikan Menjadi 'Kosong'

Hadirin sekalian, tantangan terbesar umat Islam hari ini bukanlah kekurangan amal, melainkan hilangnya keikhlasan. Di era kemajuan teknologi informasi ini, manusia sangat dimanjakan untuk memamerkan segala hal, termasuk amal kebaikannya.
 
Pamer amal atau riya' kini bermetamorfosis menjadi budaya pansos (panjat sosial). Berbagi rezeki kepada anak yatim, membangun masjid, atau memberi makan fakir miskin, tak jarang dijadikan konten untuk mendongkrak followers di Instagram, TikTok, YouTube, atau sekadar status WhatsApp dan Facebook.
 
Bisa jadi, tumpukan amal kebaikan yang kita lakukan setiap hari, karena dipamer-pamerkan di media sosial, justru berujung pada kehancuran. Amal itu menjadi "kosong" dan tidak diterima di sisi Allah SWT.
 
Sesungguhnya, menampakkan amal kebaikan adalah hal yang sangat berkecuali. Hal itu hanya boleh dilakukan oleh orang-orang khusus yang sudah mapan secara spiritual—seperti para ulama, wali, dan orang-orang saleh—dengan niat murni agar amal tersebut ditiru oleh umat.
 
Adapun bagi orang awam seperti kita, niat menampakkan amal sangat rentan tercemari oleh racun riya'. Nafsu akan terus membisikkan: "Kamu ini sudah ikhlas kok. Kamu memposting ini di medsos hanya agar orang lain mencontoh ibadahmu." Padahal, di lubuk hati yang paling dalam, kita sedang haus akan like, comment, dan validasi manusia.