Swedia menghadapi kesenjangan politik yang semakin lebar antara pemilih pria dan wanita menjelang pemilihan umum pada September mendatang, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Data jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa pilihan partai politik warga Swedia sangat berkorelasi dengan gender, mengancam reputasi negara tersebut dalam kesetaraan.

>>> Mengenal Sound Horeg Early Warning System: Situs Inovatif Pantau Gelombang Kebisingan yang Meresahkan Warga

Survei yang dilakukan oleh Statistics Sweden mengungkapkan bahwa dukungan terhadap Partai Demokrat Swedia yang berhaluan kanan jauh di kalangan pemilih pria dua kali lebih tinggi dibandingkan pemilih wanita.

Sebaliknya, Partai Sosial Demokrat yang dipimpin oleh Perdana Menteri wanita pertama Swedia, Magdalena Andersson, mendapat dukungan wanita 10 poin persentase lebih tinggi daripada pria.

Menurut survei tersebut, blok kiri pimpinan Andersson akan meraih 64% suara jika hanya wanita yang memilih.

Jika hanya pria yang memilih, partai sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Ulf Kristersson dari Partai Moderat akan memperoleh mayoritas 51%.

Lena Wängnerud, profesor ilmu politik di Universitas Gothenburg, mencatat bahwa pergerakan politik yang berbeda antara gender telah berkembang sejak tahun 1970-an.

Namun, Wängnerud menunjukkan bahwa Demokrat Swedia baru-baru ini mengambil alih Partai Moderat sebagai pilihan utama pemilih pria.

Penelitiannya mengindikasikan bahwa pria yang bekerja di sektor swasta cenderung ke sayap kanan karena kebijakan yang mendukung pajak lebih rendah, sektor publik lebih kecil, dan imigrasi berkurang.

"Fakta bahwa wanita tidak beralih ke kanan dalam tingkat yang sama, terlepas dari apakah mereka bekerja di sektor publik atau swasta, berasal dari ketergantungan mereka yang lebih besar pada negara kesejahteraan yang berfungsi baik, mengingat mereka masih memikul tanggung jawab utama untuk pengasuhan di ranah privat," ujar Wängnerud.