Laba per kendaraan Tesla turun drastis.

Analisis Nikkei Asia menunjukkan angka tersebut merosot sekitar 40% menjadi rata-rata $2.140 per mobil pada periode Januari-Maret 2026.

>>> Mugen Hadirkan Paket Modifikasi untuk Honda Fit Terbaru, Pinjam Peredam dari Civic Type R

Meski menurun, Tesla masih memimpin dalam hal profit per unit. Posisi ini dipertahankan untuk tahun kelima berturut-turut.

Penurunan ini sebagian disebabkan oleh berakhirnya kredit pajak federal sebesar $7.500 untuk EV. Kebijakan itu menekan penjualan mobil listrik di Amerika Serikat.

Selain itu, tarif yang diterapkan pemerintah AS juga menggerus margin Tesla. Persaingan ketat dari produsen China turut memperburuk situasi.

Pendapatan Tesla dari penjualan kredit karbon juga menurun.

Dari $2,9 miliar pada tahun fiskal 2024 menjadi $1,7 miliar pada tahun fiskal 2025 setelah aturan lingkungan AS dilonggarkan.

Pesaing Mendekat

Toyota berada di posisi kedua dengan laba per kendaraan sekitar $2.104. Angka itu turun 20% dari tahun sebelumnya.

>>> Bos Ferrari Senang Mobil Listrik Luce Dikritik Habis-habisan

Jarak antara Tesla dan Toyota kini hanya kurang dari $40. Setahun sebelumnya, selisihnya lebih dari $600.

Toyota lebih terlindungi dari penurunan permintaan EV karena sebagian besar lini produknya masih berbasis mesin pembakaran. Penjualan hybrid mereka tetap kuat.

BYD menempati peringkat ketiga.

Namun, laba bersihnya pada Januari-Maret 2026 anjlok 55% akibat pemotongan insentif pajak untuk kendaraan energi baru di China.

Stellantis dan Ford berada di posisi bawah. Keduanya mencatat laba per kendaraan sekitar $925 pada tahun fiskal 2024, lalu merugi pada tahun fiskal terakhir.

>>> Lexus LS 2027 Dapat Pembaruan, V6 Non-Hybrid Dihapus

Analisis ini mencakup tujuh produsen mobil global teratas, termasuk Tesla dan BYD. Data diambil dari laporan keuangan perusahaan dan QUICK FactSet.