University of Chicago Law School mengambil langkah drastis dengan melarang penggunaan laptop, ponsel, dan tablet di kelas untuk mahasiswa tahun pertama.

Kebijakan ini merupakan bagian dari perubahan kurikulum yang dirancang agar lebih "tahan terhadap AI" dan mendorong penggunaan teknologi secara lebih bijak.

>>> Manajer Norwegia Kecam Pelecehan Online terhadap Alexander Sorloth

Meskipun pengumuman sekolah tidak secara eksplisit menyebut kecurangan AI, langkah ini muncul di tengah kekhawatiran publik tentang dampak AI generatif pada pendidikan.

"Dengan AI yang mengganggu pendidikan tinggi, komitmen kami terhadap pendidikan hukum yang ketat juga harus berarti keterbukaan terhadap adaptasi yang cepat," demikian pernyataan sekolah.

Larangan perangkat di ruang kelas sebenarnya bukan hal baru, tetapi jarang mencakup laptop dan biasanya diterapkan atas kebijaksanaan instruktur, bukan sebagai kebijakan universitas.

University of Chicago mengklaim keputusan ini diambil setelah dosen dan mahasiswa melaporkan efek positif dari eksperimen larangan perangkat yang dilakukan beberapa profesor.

Aturan Baru untuk Ujian dan Penelitian

Selain larangan perangkat, ujian akan dilakukan di kelas tanpa akses internet dan aplikasi.

Mahasiswa juga harus mengikuti diskusi lisan dengan profesor tentang makalah penelitian mereka.

>>> Mahfud MD: Pengalihan Penyidikan Febrie Adriansyah Tak Dikenal dalam KUHAP

Namun, sekolah tidak sepenuhnya melarang AI. Tujuannya adalah mengarahkan mahasiswa "menuju penggunaan AI yang mempromosikan pembelajaran, bukan menghambatnya," kata Profesor Mark Templeton.

William Hubbard, ketua Komite AI, menambahkan bahwa menggunakan AI sebagai mitra belajar atau untuk membuat kuis dari catatan kuliah adalah hal yang baik.

Skandal kecurangan AI besar telah melanda beberapa institusi top AS.

Seorang profesor di Brown University baru-baru ini menemukan praktik kecurangan AI massal yang mungkin terbesar dalam sejarah Ivy League.

Princeton University juga terpaksa mengawasi ujian setelah tradisi kehormatan selama seabad ditinggalkan karena kecurigaan kecurangan AI.

>>> Polri dan Kejagung Perkuat Sinergi, Burhanuddin dan Sigit Bantah Ada Rivalitas

Langkah Chicago Law juga dapat dilihat sebagai respons terhadap contoh buruk dari para profesional hukum yang menggunakan AI secara tidak tepat, seperti pengacara yang mengajukan dokumen pengadilan dengan halusinasi AI.