Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengultimatum Amerika Serikat dan Israel bahwa pembalasan atas kematian sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, hanya menunggu waktu dan pasti akan terjadi.

Melalui pesan tertulis pada Sabtu (11/7), Khamenei menegaskan pembalasan atas kematian pendahulunya itu "tak terelakkan".

>>> DIM Tetapkan Mitra Terpilih PSEL Tahap Kedua, Empat Konsorsium Dipimpin Perusahaan Indonesia

Pernyataan ini merupakan yang pertama sejak pemakaman ayahnya yang digelar Kamis pekan lalu.

Mojtaba Khamenei menegaskan pembalasan dendam bangsa Iran terhadap rezim AS dan Israel tidak bergantung dari keberadaannya saat ini.

"Dendam ini adalah kehendak bangsa kami dan pasti akan dilaksanakan," tulisnya dalam surat yang ditandatangani pada Jumat seperti dikutip AFP.

"Hal ini tidak bergantung pada keberadaan saya secara pribadi maupun para pejabat lainnya. Baik kami masih ada maupun tidak, pembalasan itu tetap akan terjadi."

Pernyataan itu muncul menyusul semakin banyak pertanyaan terkait keberadaan Mojtaba Khamenei yang belum muncul ke publik sejak diangkat menggantikan sang ayah sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

>>> ASABRI Terapkan LKPP, Pastikan Hak Pensiun Peserta Sakit dan Lansia Terpenuhi

Ia bahkan tidak hadir di seluruh prosesi pemakaman sang ayah selama sepekan terakhir. Ketidakhadiran itu dikabarkan karena alasan keamanan.

Sebab, ia otomatis menjadi target AS-Israel selanjutnya.

Presiden Donald Trump bahkan mengancam AS bisa melancarkan serangan dan membunuh jajaran rezim Iran dalam satu waktu selama proses pemakaman Ali Khamenei berlangsung.

Pernyataan Mojtaba Khamenei juga muncul saat Iran dan AS kembali saling melancarkan serangan udara selama sepekan terakhir, bahkan saat proses pemakaman Ali Khamenei berlangsung.

>>> Lautan Luas Perkuat Transformasi Bisnis Berkelanjutan di Usia ke-75

AS dan Iran kembali berperang terkait Selat Hormuz yang kembali tegang, terlepas dari gencatan senjata dan nota kesepahaman yang diteken Teheran-Washington beberapa waktu lalu.