Selain Gorontalo, inflasi ikan segar tertinggi juga tercatat di Maluku Utara, Papua Barat Daya, Sulawesi Utara, dan Papua Tengah.

Di wilayah-wilayah tersebut, inflasi dipicu oleh berbagai jenis ikan tangkap seperti ikan layang, ikan tude, hingga ikan cakalang.

Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Erwin Dwiyana membenarkan bahwa kenaikan biaya melaut menjadi salah satu penyebab tekanan harga ikan pada tahun ini.

>>> Jadwal Prancis vs Spanyol: Kapan, Jam Berapa, Tayang di Mana?

Ia menjelaskan bahwa harga ikan segar sempat berfluktuasi sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Inflasi bulanan naik pada awal tahun, kemudian berubah menjadi deflasi pada April hingga Mei, sebelum kembali meningkat pada Juni.

Secara tahunan, inflasi ikan segar tetap berada di kisaran 8-9 persen, yang menunjukkan harga masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

"Sebagaimana disampaikan Kepala BPS, inflasi memang terjadi di beberapa daerah dan selain disebabkan oleh kenaikan bahan bakar, volatilitas juga dipengaruhi musim," kata Erwin.

Menurut Erwin, kenaikan harga BBM membuat sebagian nelayan mengurangi frekuensi melaut, bahkan memilih tidak berlayar sambil menunggu kondisi yang lebih memungkinkan.

"Dengan kenaikan bahan bakar, khususnya untuk melaut, kecenderungannya nelayan mengurangi trip bahkan juga tidak melaut menunggu situasi yang memungkinkan ataupun kondusif," ujarnya.

Selain biaya BBM, cuaca juga menjadi faktor yang membatasi aktivitas penangkapan ikan. Di Dobo, Maluku, harga ikan dilaporkan sempat melonjak hingga 30 persen.

Sementara di Gorontalo, musim angin kencang turut menyebabkan banyak nelayan tidak melaut.

KKP mencatat bahwa tekanan harga terutama terjadi pada komoditas hasil tangkap laut.