Kacamata anti radiasi semakin populer di tengah tingginya penggunaan perangkat digital.

Banyak orang membelinya dengan harapan dapat mencegah mata lelah, mengurangi risiko mata minus, hingga melindungi mata dari sinar biru.

>>> 5 Sepatu Lari Lokal Rekomendasi dr Tirta: Full Cushion hingga Carbon Plate

Namun, apakah klaim tersebut benar-benar terbukti secara ilmiah? Atau hanya sekadar strategi pemasaran?

Berikut penjelasan dari para dokter.

Apa Itu Kacamata Anti Radiasi?

Kacamata anti radiasi dirancang dengan lapisan atau filter khusus untuk mengurangi paparan radiasi elektromagnetik, terutama sinar biru (blue light).

Sinar biru banyak dipancarkan oleh perangkat elektronik seperti komputer, laptop, tablet, dan smartphone.

Berbeda dengan lensa biasa, lensa anti radiasi memiliki lapisan tambahan yang menyerap atau meredam sebagian cahaya biru sebelum mencapai mata.

Produk ini sering dipasarkan sebagai pelindung mata bagi mereka yang bekerja lama di depan layar.

Paparan layar digital dalam durasi panjang memang dapat menyebabkan ketidaknyamanan, seperti mata kering, pegal, pandangan kabur sementara, atau sakit kepala.

>>> Suzuki Produksi Massal Paket Modifikasi Jimny Gozel Outdoor Concept

Kondisi ini dikenal sebagai digital eye strain atau kelelahan mata digital.

Penggunaan kacamata anti radiasi umumnya ditujukan bagi pekerja kantoran, pelajar, atau siapa pun yang menghabiskan banyak waktu dengan perangkat digital.

Namun, efektivitasnya dalam mencegah gangguan kesehatan mata masih menjadi perdebatan di kalangan medis.

Apakah Kacamata Anti Radiasi Efektif?

Sejumlah dokter mata menjelaskan bahwa manfaat kacamata anti radiasi, khususnya untuk menyaring sinar biru, masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Saddam Ismail mengatakan anggapan sinar biru dari ponsel sebagai penyebab utama mata rusak atau minus bertambah belum didukung bukti ilmiah yang kuat.

Menurutnya, keluhan mata lelah lebih banyak disebabkan kebiasaan menatap layar terlalu lama tanpa memberikan waktu istirahat pada mata.

Ia menyarankan metode 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.

>>> Volkswagen Hadapi Krisis, Siap Hentikan Separuh Model dan PHK 100 Ribu Karyawan

Selain itu, rutin berkedip juga disarankan untuk menjaga kelembapan mata. Dengan demikian, kacamata anti radiasi bukanlah solusi utama untuk mencegah kelelahan mata atau kerusakan penglihatan.