Tingginya intensitas menatap layar gadget bercahaya membuat kesehatan mata menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Paparan cahaya tersebut dapat memengaruhi kualitas kesehatan mata manusia.

Ketika mata sudah lelah menatap layar terlalu lama, potensi gangguan seperti mata buram, perih, mengganjal, bahkan sakit kepala bisa muncul.

in1

>>> Menteri Imipas dan Ketua Komisi IV Cicip Telur hingga Panen Sidat di Nusakambangan

Pada anak-anak, gangguan kesehatan mata dapat memengaruhi kegiatan akademik jika terjadi dalam jangka panjang.

Pergeseran Penyebab Mata Minus

Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, Ucok P. Pasaribu, mengungkapkan bahwa pada awal 2000-an faktor genetik memegang peran penting terhadap kondisi mata minus.

Namun saat ini terjadi pergeseran, di mana durasi screen time gadget yang terlalu banyak menjadi penyebab utama.

"Akhirnya banyak kita dapetin sekarang nih anak-anak yang bapak mamanya enggak punya kacamata. Anaknya tebalnya minta ampun kacamatanya minus 4, minus 5 kayak gitu.

Karena memang sudah bergeser era ini, mereka sudah hidup di dunia digital," ungkap Ucok dalam Media Gathering Bersama Mayapada Eye Centre di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Dokter mata dan orang tua memiliki tugas untuk memberikan edukasi kepada anak-anak terkait durasi screen time yang aman.

Setiap anak mesti menyesuaikan durasi screen time gadget dengan kebutuhannya.

Potensi kemunculan gejala mata minus pada anak cenderung lebih besar jika memiliki faktor genetik.

Namun dengan kesadaran terhadap kesehatan mata, orang tua bisa membantu sang anak agar minusnya tidak semakin tebal.

"Hal-hal seperti itu kita harus merangkul mereka.

Jangan sampai benar-benar minusnya tebal banget dan itu ada yang ngomong ke orang tua, ada yang gak ngomong.