Kami juga produsen kobalt terbesar kedua dan eksportir bijih tembaga terbesar ketiga.

Kekayaan mineral ini merupakan keunggulan strategis kami sehingga Indonesia dapat menjadi pemain penting dalam ekosistem AI global," kata Nezar.

>>> Momen Prancis Hajar Spanyol 3-1 di Piala Dunia

Menurut Nezar, kombinasi sumber daya tersebut memberi peluang bagi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai industri teknologi.

Indonesia memiliki empat modal besar: cadangan mineral kritis melimpah, pasar digital terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, dan kapasitas komputasi nasional yang perlu diperkuat.

Namun, potensi itu tidak akan maksimal tanpa peningkatan kualitas SDM, penguatan data nasional, dan kemampuan industri dalam negeri.

Nezar menilai keunggulan suatu negara di era AI ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem lengkap: talenta, komputasi, data, dan industri.

Pemerintah menempatkan sejumlah prioritas, termasuk memperkuat diplomasi chip, penguatan pasokan energi untuk pusat data, percepatan pengembangan talenta AI dan semikonduktor, penguatan kedaulatan data nasional, serta pengembangan teknologi AI yang relevan dengan kebutuhan Indonesia.

Kebutuhan komputasi AI terus meningkat.

Pusat data berskala besar membutuhkan pasokan listrik stabil, sistem pendinginan andal, dan chip berperforma tinggi yang masih dikuasai segelintir negara.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya memiliki cadangan mineral.

Nilai tambah baru akan tercipta jika sumber daya itu menjadi pintu masuk investasi teknologi, transfer pengetahuan, dan pembangunan industri bernilai tinggi di dalam negeri.

Nezar menegaskan perjalanan Indonesia menuju negara dengan kekuatan digital strategis tidak hanya bergantung pada inovasi.

Konsistensi membangun infrastruktur digital, pusat data, talenta, dan institusi yang kuat menjadi fondasi utama.

"Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata.

>>> Produser Spider-Man: Brand New Day Hati-hati dengan Spin-off Marvel Agar Tak Kehilangan Keistimewaan

Ini tentang kemauan politik, kemauan untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, membangun institusi secara bertahap, dan memutuskan masa depan geopolitik baru Indonesia," pungkasnya.