Legitimasi Le Pen: Antara Ambisi Politik dan Hukuman Korupsi
Pengadilan banding Prancis baru-baru ini mengonfirmasi bahwa Marine Le Pen terbukti bersalah dalam skema penggelapan dana publik yang sistematis selama lebih dari satu dekade.
Kasus ini bermula pada 2004 ketika kepemimpinan Front Nasional (kini National Rally) mengatur skema pekerjaan palsu di Parlemen Eropa.
>>> Resmi Melantai di BEI, RANS Entertainment Raup Kapitalisasi Pasar Rp2,14 Triliun
Dana yang seharusnya untuk gaji asisten anggota parlemen Eropa dialihkan ke Prancis untuk mendukung kegiatan partai.
Di antara staf yang tercatat sebagai asisten palsu adalah pengawal pribadi Le Pen dan asisten pribadinya yang sudah lama bekerja.
Penipuan ini berlangsung selama 11 tahun hingga 2016 dan melibatkan 28 terdakwa, termasuk Jean-Marie Le Pen.
Hukuman dan Reaksi
Hakim menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara, dengan dua tahun ditangguhkan dan satu tahun sisanya dijalani dengan pengawasan elektronik.
Le Pen juga didenda €100.000 dan dinyatakan tidak layak memegang jabatan publik selama 45 bulan, dengan 30 bulan ditangguhkan.
Meskipun demikian, ia meluncurkan kampanye untuk pemilihan presiden 2027 dalam hitungan jam setelah putusan.
>>> BI: Penjualan Ritel Juni 2026 Tetap Terjaga, Libur Sekolah Jadi Penopang Konsumsi
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah legitimasi Le Pen sebagai wakil rakyat, bukan sekadar apakah ia bisa maju atau tidak.
Kontradiksi Partai
Partai Le Pen selama ini mengampanyekan slogan 'tangan bersih dan kepala tegak' serta mengklaim sebagai partai integritas politik.
Pada 2013, Le Pen menuntut larangan seumur hidup bagi pejabat publik yang terbukti melakukan pelanggaran.
Ironisnya, saat ia menyatakan tangannya 'tak bernoda', skema penggelapan yang kini dihukum sudah berjalan.
Partai yang mengklaim membela hukum dan ketertiban justru terjerat skandal keuangan yang mendalam.
>>> 3 Tempat Nonton Anime Gratis dan Legal, dari YouTube hingga Bstation
Le Pen tidak pernah menunjukkan penyesalan atau meminta maaf atas pengkhianatan terhadap nilai-nilai republik yang sering ia gaungkan.
Update Terbaru
Bagasi Garuda Dihitung dari Jumlah Bawaan Mulai 1 September 2026
Senin / 13-07-2026, 13:22 WIB
Polri Serahkan Emas 74 Kg dan Uang Asing Kasus Febrie ke Kejagung
Senin / 13-07-2026, 13:22 WIB
Iran Kembali Serang Negara Arab, Saudi Jadi Pengecualian
Senin / 13-07-2026, 13:21 WIB
Polda NTT Tunda Pemeriksaan Empat Terlapor Kasus Intimidasi Dokter Icha
Senin / 13-07-2026, 13:21 WIB
Respons Kritik Tuchel, Kane Janji Inggris Menggila Lawan Argentina
Senin / 13-07-2026, 13:21 WIB
Asus Resmi Rilis Kontroler ROG Raikiri II Pro PC untuk Gamer Kompetitif
Senin / 13-07-2026, 13:21 WIB
5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Transaksi Cashless
Senin / 13-07-2026, 13:21 WIB
Galaxy XR Resmi Dijual di Inggris, Dapatkan Explorer Pack Gratis
Senin / 13-07-2026, 13:19 WIB
Swiss Murka, Aturan Baru FIFA dan IFAB Picu Kartu Merah Breel Embolo
Senin / 13-07-2026, 13:19 WIB
Mongol Langsung Terbang dari Bali demi Melayat Temon
Senin / 13-07-2026, 13:15 WIB
Apakah Parfum Scarlett Boleh Dipakai Sholat? Ini Penjelasan Hukumnya
Senin / 13-07-2026, 13:14 WIB
Kacamata Anti Radiasi: Efektifkah Cegah Mata Minus dan Lelah? Ini Kata Dokter
Senin / 13-07-2026, 13:14 WIB
5 Sepatu Lari Lokal Rekomendasi dr Tirta: Full Cushion hingga Carbon Plate
Senin / 13-07-2026, 13:14 WIB
Suzuki Produksi Massal Paket Modifikasi Jimny Gozel Outdoor Concept
Senin / 13-07-2026, 13:14 WIB







