Jihad Terdekat: Berbakti pada Orang Tua dan Menuntut Ilmu

Sebelum kita berbicara tentang mengubah dunia, jihad harus dimulai dari lingkaran terdekat kita. Khatib mengisahkan sebuah hadits di mana seorang sahabat meminta izin kepada Rasulullah untuk berperang (jihad). Namun, Rasulullah justru bertanya, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Ketika dijawab "Ya", Rasulullah bersabda:
 
"Kepada mereka berdualah engkau berjihad." (HR. Imam Bukhari)
 
Selain itu, melangkahkan kaki untuk menuntut ilmu juga merupakan jihad. Rasulullah SAW bersabda:
 
"Siapa saja yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang." (HR. Imam Tirmidzi)
 
Dengan meletakkan jihad pada posisinya yang sesungguhnya, insya Allah tercipta Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur—negeri yang baik, aman, damai, dan diampuni oleh Allah SWT.
 

 

Panduan Teks Lengkap Khutbah Jumat 17 Juli 2026

Bagi para khatib maupun umat Islam yang ingin menyimak naskah lengkap khutbah bertemakan "Meletakkan Makna Jihad Pada Posisinya", berikut adalah susunan teks yang dapat dijadikan panduan:
 
KHUTBAH PERTAMA
 
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالِمْ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.
 
فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
 
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
 
Mengawali khutbah Jumat yang penuh berkah ini, marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah Swt. kepada kita; anugerah nikmat yang tidak terbatas yang dibentangkan bagi setiap hamba-Nya. Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
 
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
 
“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197)
 
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
 
Agama Islam mengajarkan kita untuk dapat membangun harmoni sosial dalam bingkai kehidupan. Kehidupan yang harmonis hanya dapat tercipta jika kaum Muslim berusaha keras menerapkan nilai-nilai rahmah, mengembangkan ilmu dan sains, serta menampilkan budi pekerti yang luhur.
 
Berusaha keras, dalam bahasa al-Qur’an, diungkapkan dengan kata “jihad”. Kita seringkali mendengar kata “jihad”, namun kata ini sering disempitkan maknanya pada perang atau Qital. Padahal “jihad” mengandung makna mengerahkan segala usaha untuk mencapai tujuan hidup yang mulia; itu sebabnya tindakan berjihad dinilai sebagai amal ibadah yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.
 
Mengenai kemuliaan kedudukan jihad dalam Islam, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
 
أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ إِيْمَانٌ بِاللّٰهِ، قَالَ ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ (HR. Bukhari)
 
Rasulullah Saw. pernah ditanya oleh sahabat, amalan apa yang paling utama? Rasulullah menjawab, iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu ditanya, apa lagi selain itu? Rasulullah menjawab, berjihad di jalan Allah.
 
Rasulullah menegaskan pentingnya kedudukan jihad dalam Islam. Namun, dewasa ini makna kata “jihad” telah menjurus kepada kebencian, bahkan sampai pada pembunuhan atas nama agama. Penyempitan makna “jihad” menjadi kekerasan adalah sebuah distorsi atau pengaburan yang berbahaya bagi kemuliaan ajaran jihad itu sendiri.
 
Jihad pada dasarnya memiliki arti yang luas, yaitu usaha sungguh-sungguh menegakkan kebaikan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dengan menggunakan hati yang bersih, ilmu yang memadai, harta, serta amal yang nyata. Jelas, bahwa jihad itu membangun, bukan merusak. Jihad itu menebar kasih sayang dan rahmat, bukan menyebabkan ketakutan dan kebencian.
 
Bukankah Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an:
 
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ “Tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
 
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
 
Kalau tujuan utama Allah mengutus Nabi Muhammad membawa agama Islam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, maka sudah semestinya, sebagai umat Muhammad yang hidup di zaman digital ini, kita meneladani beliau dalam menciptakan perdamaian, keamanan, perlindungan, serta empati kepada kemanusiaan dan pelestarian lingkungan alam.
 
Jihad kekinian bukanlah tentang mematikan orang lain, melainkan bagaimana menghidupkan kemaslahatan bagi umat. Di era digital dan perang pemikiran saat ini, jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu dan jihad menggunakan ilmu. Allah SWT berfirman:
 
فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا "Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur'an (ilmu dan argumen) dengan jihad yang besar." (QS. Al-Furqan: 52).
 
Perhatikan ulasan ayat ini! Allah menyebut jihad dengan Al-Qur’an (argumen intelektual) sebagai Jihadun Kabir (Jihad yang Besar). Maka, jihad kekinian bagi kita adalah: