Angkatan Udara Amerika Serikat telah mengambil langkah besar menuju perang udara generasi baru dengan memulai kontrak produksi untuk pesawat tempur semi-otonom FQ-44 Fury buatan Anduril.

Pesawat ini dirancang untuk terbang bersama pesawat berawak seperti F-35 dan F-22, memberikan jangkauan, sensor, dan opsi tempur tambahan tanpa menempatkan personel lain dalam bahaya.

>>> Kebakaran di Ruko Pulogadung, Tiga Orang Tewas

Mengapa FQ-44 Penting

Angkatan Udara memberikan kontrak rekayasa, manufaktur, dan produksi kepada General Atomics untuk FQ-42 dan Anduril untuk FQ-44 sebagai bagian dari CCA Increment 1.

Penghargaan tersebut datang empat bulan lebih cepat dari jadwal dan menandakan kedua pesawat memenuhi persyaratan misi untuk produksi skala penuh.

Angkatan Udara menginginkan lebih dari 150 CCA yang siap tempur pada akhir dekade ini dan sekitar 1.000 unit dalam jangka panjang.

Konsep Loyal Wingman

FQ-44 termasuk dalam kategori pesawat 'loyal wingman' yang dirancang untuk bekerja bersama pilot manusia, bukan menggantikannya.

Pesawat ini dapat digunakan untuk misi pengintaian, perang elektronik, dukungan serangan, dan operasi berisiko tinggi.

Seorang pilot di F-35 atau F-22 suatu hari dapat memimpin sekelompok kecil pesawat nirawak yang bertugas memandu, membawa sensor, atau mengalihkan bahaya dari pesawat berawak.

Perangkat lunak menjadi kunci utama. Angkatan Udara memisahkan perangkat lunak otonomi misi dari pembelian pesawat, dengan pendekatan 'perangkat lunak dijual terpisah'.

Enam vendor dipilih untuk kontrak otonomi misi, termasuk Anduril, General Atomics, Lockheed Martin, Northrop Grumman, RTX Collins Aerospace, dan Shield AI.

Dengan sistem ini, perangkat lunak dapat diperbarui, dikompetisikan, dan ditingkatkan seiring waktu, mirip seperti smartphone yang mendapatkan fitur baru setelah perangkat keras ada di lapangan.