Dunia couture sering dibangun di atas tragedi, teknik ekstrem, atau kemewahan sakral. Namun Robert Wun memilih arah berbeda.

Desainer asal Hong Kong itu mempersembahkan koleksi bertajuk Childsplay di Dome de Paris. Ia mengajak penonton kembali pada kegembiraan yang hampir terlupakan dalam mode.

>>> BPS dan Pemprov Bali Perkuat Komitmen Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Wun ingin menciptakan kegembiraan dari ingatan masa kecil, saat dunia belum dipenuhi kecemasan. Ia membuka koleksi dengan pernyataan reflektif tentang perjalanan tiga tahun rumah couture-nya.

"Apa lawan dari seluruh beban dan keseriusan yang kita pikul?" tulisnya dalam shownote.

Pertanyaan itu menjadi fondasi Childsplay.

Childsplay merujuk pada sesuatu yang remeh, terlalu mudah, bahkan kekanak-kanakan. Padahal couture identik dengan kerumitan dan keseriusan.

Wun membalik makna tersebut.

"Inspirasi muncul ketika segala sesuatu dikembalikan pada esensinya yang paling sederhana. Mendefinisikan kembali keindahan melalui mata polos yang pernah dimiliki setiap dari kita," tulisnya.

Ilusi Manik-Manik dan Perspektif Anak-Anak

Narasi itu terbaca sejak penampilan pertama. Model mengenakan gaun putih bersih seperti kanvas kosong.

Dari kejauhan, warna-warni tampak seperti cipratan cat.

Saat dilihat lebih dekat, ilusi terpecahkan. Yang terlihat bukan cat, melainkan ribuan mikro manik-manik yang dijahit satu per satu dengan presisi couture.

Permainan persepsi ini menjadi kekuatan koleksi. Wun mengingatkan bahwa masa kanak-kanak dipenuhi cara pandang yang belum dibatasi logika.

Koleksi berkembang seperti garis waktu kehidupan. Dari "kertas kosong", warna bermunculan, siluet semakin terstruktur, karakter terbentuk—seperti anak yang menemukan identitasnya.

>>> Argentina Susah Payah Kalahkan 10 Pemain Swiss 3-1 di Piala Dunia 2026

Boneka, mainan, dan cerita masa kecil diterjemahkan secara teatrikal namun elegan. Wun menunjukkan bahwa couture tidak kehilangan esensi meski bertema ringan.