Meningkatnya angka obesitas dan diabetes berdampak langsung pada produksi hormon.

Obesitas dapat mempercepat konversi testosteron menjadi estrogen. Lemak tubuh berlebih juga meningkatkan suhu skrotum dan mengganggu sinyal otak yang penting untuk perkembangan sperma.

Jayasena memperingatkan penjualan suplemen testosteron secara online yang tidak terkontrol. Penggunaan testosteron dari luar justru dapat menghentikan produksi alami sperma.

Ia mencontohkan seperti termostat rumah: jika pemanas dinyalakan, boiler akan mati. Tubuh mengurangi produksi hormon internal saat testosteron eksternal masuk.

Peningkatan kesadaran publik mendorong permintaan suplemen yang tidak terverifikasi di Inggris, AS, dan Australia. Para ahli menyesalkan tren penggunaan testosteron tanpa indikasi medis.

Keraguan terhadap Bukti Lingkungan

Prof Rod Mitchell dari Universitas Edinburgh meragukan klaim kontaminasi lingkungan. Ia menyebut studi yang menemukan mikroplastik di testis belum membuktikan dampak buruk.

Eksperimen terkontrol pada jaringan testis janin manusia tidak menunjukkan perubahan saat terpapar plasticizer seperti ftalat dan BPA. Mitchell menegaskan bahwa studi pada hewan sering menyesatkan.

Ia menolak prediksi ekstrem bahwa jumlah sperma akan mencapai nol dalam beberapa dekade. Mitchell menekankan bahwa penurunan populasi lebih dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi.

Sementara itu, Prof Christopher Barratt dari Universitas Dundee menekankan pentingnya diagnostik dasar bagi pria. Ia menyebut pria sering mengalami keterlambatan diagnosis di klinik fertilitas.

>>> Pertamina Raih Enam Penghargaan di Asian Excellence Award 2026

Teknologi baru seperti seleksi mikrofluida dan kecerdasan buatan diharapkan dapat mengoptimalkan pemilihan sperma sehat. Barratt optimistis pilihan bagi pria akan berubah dalam empat hingga lima tahun ke depan.