Salah satu capaian yang disampaikan adalah kondisi cadangan pangan nasional yang dinilai berada pada posisi aman.

Saat ini stok beras nasional mencapai sekitar 5,2 juta ton.

Standing crop diperkirakan berada pada kisaran 10–11 juta ton, sementara cadangan beras yang tersimpan di rumah tangga, hotel, dan restoran diperkirakan mencapai 12,5 juta ton.

"Artinya dengan cadangan ini, tiga-tiganya, itu bisa 10-11 bulan ke depan.

Anggaplah yang terendah adalah 10 bulan ke depan, artinya sampai dengan bulan April 2027 itu cukup, sedangkan bulan Maret 2027 itu sudah panen puncak.

Jadi dampak El Nino Godzilla sebagaimana disampaikan oleh BMKG, insya Allah itu bisa kita mitigasi risikonya," kata Mentan Amran.

Menurut Amran, cadangan pangan yang kuat menjadi bantalan penting dalam menghadapi potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim.

Dengan panen raya yang diperkirakan berlangsung pada Maret 2027, pemerintah optimistis kebutuhan pangan masyarakat tetap dapat dipenuhi.

Untuk memperkuat ketahanan pangan, pemerintah juga terus menjalankan berbagai program adaptasi perubahan iklim melalui pembangunan embung, irigasi perpompaan, sumur dalam, pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, hingga percepatan program cetak sawah baru.

Program optimalisasi lahan bahkan mampu meningkatkan indeks pertanaman pada sejumlah lahan rawa dari satu kali panen menjadi dua hingga tiga kali panen setiap tahun.

"Ini semua bisa memitigasi risiko. Sekali lagi insya Allah untuk pangan dalam kondisi aman," ujarnya.

Selain memperkuat produksi pangan, pemerintah juga terus mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan rakyat.

Program pengembangan perkebunan rakyat saat ini mencakup sekitar 870 ribu hektare untuk komoditas kakao, kopi, jambu mete, kelapa, dan tebu yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua sebagai salah satu daerah prioritas pengembangan pertanian nasional.