Khutbah Jumat 17 Juli 2026: Mengakhiri Muharram dan Meluruskan Mitos Bulan Safar, Lengkap dengan Teks serta Amalannya

Bagi umat Islam di Indonesia, pertengahan bulan Juli 2026 menjadi momentum transisi yang penting dalam kalender Hijriah. Khutbah Jumat 17 Juli 2026 menjadi rujukan utama bagi para khatib untuk menyampaikan pesan perpisahan dengan bulan mulia Muharram, sekaligus menyambut datangnya bulan Safar.
 
Berdasarkan kalender Hijriah 2026 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, bulan Muharram 1448 H akan segera berakhir, yang berarti kita akan melangkah masuk ke bulan Safar.
 
Namun, di tengah pergantian bulan ini, masih beredar luas mitos di masyarakat yang menganggap Safar sebagai "bulan sial" atau bulan bencana. Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam yang sesungguhnya? Simak ulasan lengkap, dalil naqli, serta teks khutbah Jumat selengkapnya berikut ini.
 

Mengupas Sejarah dan Makna Bulan Safar

Sebelum membahas lebih jauh mengenai khutbah, penting untuk memahami akar sejarah dari nama bulan Safar itu sendiri. Secara bahasa, Safar berasal dari kata shifr yang berarti kosong, sepi, atau sunyi.
 
Mengapa dinamakan demikian? Para ahli sejarah mencatat bahwa masyarakat Arab pada masa Jahiliyah memiliki kebiasaan mengosongkan rumah-rumah mereka. Mereka pergi meninggalkan kampung halaman untuk keperluan dagang, berpindah tempat, atau bahkan berperang pada bulan ini. Karena rumah-rumah tampak "kosong", maka bulan tersebut dinamakan Safar.
 
Sayangnya, kebiasaan mengosongkan rumah ini lama-kelamaan bergeser menjadi kepercayaan takhayul. Masyarakat Jahiliyah meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan, sehingga mereka enggan memulai pekerjaan penting atau melangsungkan pernikahan pada bulan ini.
 

Meluruskan Mitos "Bulan Sial" dalam Kacamata Islam