Datangnya Islam melalui Rasulullah SAW secara tegas membabat habis kepercayaan thiyarah (merasa sial karena waktu, tempat, atau burung). Islam mengajarkan bahwa tidak ada satu pun waktu yang membawa kesialan secara inheren.
 
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari:
 
Lā ‘adwā wa lā ṭiyarata wa lā hāmata wa lā ṣafar, wa firr minal-majdzūmi ka firārika minal-asad.
 
Artinya: "Tidak ada penularan wabah (tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (merasa sial), tidak ada hamah (burung hantu sebagai pertanda sial), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta (lepra) sebagaimana engkau menghindar dari singa." (HR. al-Bukhari).
 
Dalam kitab ‘Umdâtul Qâri Syarhu Shahîhil Bukhâri, Badruddin ‘Aini menjelaskan bahwa pelarangan merasa sial di bulan Safar adalah bentuk penolakan terhadap tradisi Jahiliyah. Kesialan atau keberkahan suatu waktu sepenuhnya bergantung pada apa yang dilakukan manusia di dalamnya, bukan pada nama bulannya.
 

Rahasia Keberkahan Waktu: Ketaatan atau Kemaksiatan?

Lantas, apa yang membuat sebuah waktu menjadi berkah atau justru mendatangkan mudharat? Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab monumentalnya, Lathaiful Ma’arif, memberikan sebuah kaidah emas yang sangat menenangkan hati:
 
Fa kullu zamānin syaghalahul-mu’mina biṭā‘atillāhi fa huwa zamānun mubārakun ‘alaih, wa kullu zamānin syaghalahul-‘abda bi ma‘ṣiyatillāhi fa huwa masy’ūmun ‘alaih.
 
Artinya: "Maka, setiap zaman yang menyibukkan orang mukmin dengan melakukan ketaatan kepada Allah, maka zaman itu merupakan zaman yang diberkahi. Dan setiap zaman yang menyibukkan manusia dengan bermaksiat kepada Allah, maka zaman itu merupakan zaman yang tidak diberkahi (kesialan baginya)."
 
Dengan kaidah ini, dapat disimpulkan bahwa jika kita mengisi akhir Muharram dan awal Safar dengan ibadah, maka bulan tersebut adalah bulan yang sangat mulia. Sebaliknya, jika diisi dengan maksiat, maka bulan Muharram yang mulia pun bisa menjadi bulan yang "sial" bagi pelakunya.
 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 77: