Pola seperti ini membuat perhatian terpecah dan otak bekerja lebih keras dari seharusnya.

Desain platform digital yang membuat pengguna betah berlama-lama juga menjadi pemicu popcorn brain.

Algoritma memilihkan konten sesuai minat, lalu menyajikannya dalam format cepat, singkat, dan mudah dikonsumsi.

Lama-kelamaan, otak kehilangan toleransi terhadap aktivitas yang lebih lambat.

"Dalam jangka panjang, stimulasi berlebihan ini dapat membuat kita merasa lelah secara mental dan kurang mampu berpikir mendalam atau berkreasi," ujar Hafeez.

Cara Mengatasi Popcorn Brain

Kabar baiknya, popcorn brain bisa dilatih agar kembali fokus. Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda mengalaminya.

Kesadaran ini penting karena perubahan perilaku lebih mudah dilakukan ketika kita memahami masalahnya.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain membiasakan mindfulness, seperti body scan dengan duduk tenang, memejamkan mata, mengatur napas, dan memperhatikan sensasi tubuh.

Ciptakan lingkungan yang lebih tenang dengan mematikan notifikasi tidak penting, menggunakan satu perangkat dalam satu waktu, dan mencoba 'puasa' media sosial.

Jika perlu bekerja dengan fokus, gunakan teknik Pomodoro: bekerja 25 menit lalu istirahat 5 menit.

Buatlah to-do list saat pikiran terasa berantakan. Daftar ini memberi struktur dan membantu mengerjakan satu hal dalam satu waktu.

Ambil 5-10 menit untuk menarik napas dalam atau mendengarkan musik menenangkan sebelum mulai bekerja.

>>> RANS Resmi Melantai di BEI, Raup Dana Rp429,25 Miliar

Popcorn brain menjadi tanda bahwa otak mungkin terlalu sering menerima rangsangan digital tanpa jeda. Cek screen time Anda; jika berjam-jam, waspadalah.