Mobil listrik sering dianggap sebagai solusi mobilitas rendah emisi. Namun, di balik klaim ramah lingkungan, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tony K. Hariadi, menyoroti masalah utama pada sumber listrik yang masih didominasi batu bara.

>>> Tiffany Haddish Akhiri Tugas Host Tamu dengan Baca Surat Penggemar

Meskipun mobil listrik minim polusi, jejak karbon tetap ada dari proses produksi energi.

"Kalau dilihat langsung dari kendaraannya, emisi polusi memang hampir tidak ada. Tetapi kita juga harus melihat dari sisi hulunya.

Listrik di Indonesia masih dihasilkan dari pembangkit batu bara yang tetap memicu emisi," ujar Tony dalam keterangannya, Selasa (7/7).

Tony menjelaskan, meskipun sumber listrik masih menggunakan batu bara, kendaraan listrik sebenarnya bisa memangkas emisi karbon sekitar 50 persen dibanding mobil biasa.

Masalahnya, jika jumlah pengguna meledak, kebutuhan listrik nasional juga akan ikut naik.

"Jika pengguna kendaraan listrik semakin banyak, kebutuhan daya nasional tentu akan naik. Kalau sumbernya masih didominasi batu bara, emisi di sisi pembangkit juga akan ikut bertambah," sebutnya.

Limbah Baterai Jadi Ancaman Baru

Selain soal sumber energi, Tony juga mengingatkan potensi masalah baru, yaitu limbah baterai kendaraan listrik.

Ia memprediksi hal ini akan menjadi persoalan serius dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.

Menurutnya, sistem pengelolaan dan daur ulang baterai harus segera disiapkan karena usia pakainya terbatas dan material di dalamnya perlu penanganan khusus.

>>> Armiger Entertainment Luncurkan Kampanye Kickstarter untuk Pilot Anime Tenchi Galaxy

"Kita harus mulai memikirkan sistem daur ulang baterai dari sekarang. Jangan sampai puluhan tahun lagi justru muncul masalah lingkungan baru akibat penumpukan limbah baterai," katanya.