Indonesia membawa dua agenda besar ke panggung dunia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa.

Agenda tersebut adalah menyiapkan generasi muda sebagai pencipta teknologi kecerdasan buatan (AI) dan memperkuat perlindungan anak di ruang digital.

>>> 5 Jalur Alternatif Anti Macet ke Puncak Bogor dan Rekomendasi Wisata Keluarga 2026

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyampaikan pesan itu saat mewakili Indonesia.

Ia menegaskan bahwa transformasi digital harus tumbuh seiring dengan tata kelola yang aman dan bertanggung jawab.

Pernyataan ini muncul di tengah pesatnya adopsi AI dan bonus demografi yang dimiliki Indonesia.

Posisi Indonesia dalam Minat AI

Indonesia mengklaim berada di posisi 10 besar dunia dalam hal minat terhadap AI.

Hal ini menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat Indonesia terhadap teknologi AI.

Pemerintah berkomitmen untuk memanfaatkan momentum ini dengan menyiapkan generasi muda sebagai pencipta, bukan sekadar pengguna AI.

>>> Cara Cek Jadwal Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Tahun 2026 yang Cair 20 Juli

Langkah ini diharapkan dapat mendorong inovasi dan daya saing bangsa di era digital.

Perlindungan Anak di Ruang Digital

Selain AI, Indonesia juga menuntut penguatan perlindungan anak di ruang digital.

Meutya Hafid menekankan pentingnya keamanan dan kenyamanan anak saat beraktivitas di dunia maya.

Pemerintah mendorong kerja sama global untuk menciptakan ekosistem digital yang ramah anak.

Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia dalam menangani konten negatif dan kejahatan siber yang menyasar anak-anak.

>>> Cara Cek Spesifikasi Motorola Moto G77 Power 2026 dengan Baterai 7.000 mAh

Dengan dua agenda ini, Indonesia ingin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan perlindungan dan pemberdayaan generasi muda.