Keduanya bisa menyebabkan peradangan, jaringan parut, sirosis, dan kanker hati.

Pria lebih mungkin meninggal karena penyebab terkait alkohol dibanding wanita, dan kerusakan hati adalah salah satu contoh paling jelas bagaimana gaya hidup, kebiasaan sosial, dan perawatan yang tertunda bisa bergabung.

Mengurangi alkohol, mengobati diabetes, menurunkan berat badan berlebih di perut, dan memeriksa enzim hati saat direkomendasikan dapat membantu mendeteksi masalah sebelum kerusakan ireversibel terjadi.

Diabetes Tipe 2: Ancaman Diam-diam

Diabetes tipe 2 sering berkembang perlahan, sehingga mudah diabaikan.

Banyak orang tidak memiliki gejala jelas pada awalnya, atau mengaitkan rasa haus, kelelahan, penglihatan kabur, atau sering buang air kecil dengan stres atau penuaan.

Pada pria, penambahan berat badan di perut adalah tanda peringatan penting karena terkait erat dengan resistensi insulin. Seiring waktu, diabetes yang tidak terkontrol merusak pembuluh darah dan saraf.

Kondisi ini meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, penyakit ginjal, kehilangan penglihatan, infeksi, dan disfungsi ereksi.

Diabetes lebih dari sekadar masalah gula darah; ini adalah penyakit seluruh tubuh yang bisa memperpendek umur jika tidak diobati.

Strategi paling efektif adalah deteksi dini. Tes darah sederhana bisa mengidentifikasi pradiabetes atau diabetes sebelum komplikasi besar muncul.

Penurunan berat badan, olahraga teratur, tidur lebih baik, pola makan sehat, dan obat-obatan bila perlu dapat mengurangi risiko hasil yang parah.

Kesehatan Mental Masih Dianggap Tabu

Ancaman kelima berbeda karena bukan satu penyakit tunggal. Ini adalah kombinasi depresi, kecemasan, penggunaan zat, isolasi, dan tekanan psikologis yang tidak diobati.

Bagi banyak pria, kesehatan mental masih lebih sulit dibicarakan daripada rasa sakit fisik.

Konsekuensinya bisa fatal.

Data CDC menunjukkan tingkat bunuh diri pada pria hampir empat kali lebih tinggi dibanding wanita di Amerika Serikat.

>>> Bawa Eksepsi 37 Halaman, Dokter Tifa Lawan Dakwaan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi

Kesenjangan ini tidak dijelaskan oleh kelemahan atau karakter, melainkan oleh keheningan, stigma, akses ke alat mematikan, penggunaan zat, dan keyakinan bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan.