Ia menambahkan, MAKA menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan industri dalam menghasilkan inovasi yang siap diterapkan.

Dikembangkan dari Riset Tumbuh Kembang Anak

Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI, Chairul Hudaya, mengatakan peluncuran MAKA membuktikan bahwa hasil penelitian kampus dapat berkembang menjadi produk inovatif yang memberikan manfaat nyata.

"Peluncuran Aplikasi MAKA menjadi bukti bahwa hasil riset di perguruan tinggi dapat berkembang menjadi produk inovasi yang memberikan manfaat nyata.

Inovasi bukan sekadar menghasilkan teknologi baru, tetapi juga menghadirkan solusi yang mampu menjawab kebutuhan pengguna," ujar Chairul.

Menurutnya, melalui Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi, UI terus membangun ekosistem yang mempercepat transfer teknologi, pengelolaan kekayaan intelektual, hingga komersialisasi inovasi agar berdampak secara sosial maupun ekonomi.

Inventor utama MAKA, Muhammad Luthfi, menjelaskan aplikasi ini lahir dari kegelisahan melihat anak-anak yang semakin dekat dengan gawai tanpa didampingi konten edukatif.

"Yang menjadi tantangan sekarang bukan lagi menjauhkan anak dari gadget, tetapi bagaimana menghadirkan pengalaman digital yang lebih terarah, bermakna, dan mendukung tumbuh kembang anak," ujarnya.

Menurut Luthfi, MAKA merupakan stimulasi digital berbasis gamifikasi, bukan sekadar permainan biasa. Seluruh konten dikembangkan berdasarkan kajian akademik mengenai perkembangan kognitif dan mental anak.

Aplikasi MAKA menawarkan 300 level permainan yang disesuaikan dengan kurikulum tumbuh kembang anak Indonesia.

>>> Panen Tebu di PG Semboro Jember, PT SGN Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Gula

MAKA juga memiliki fitur pembatasan durasi penggunaan otomatis selama 30 menit guna mengajarkan pemakaian gawai secara bijak kepada pengguna.