Wabah campak parah melanda Bangladesh dan telah merenggut nyawa hampir 750 anak sejak pertengahan Maret 2026.

Kementerian Kesehatan Bangladesh melaporkan lebih dari 100.000 kasus suspek muncul dalam beberapa bulan terakhir di negara berpenduduk lebih dari 170 juta jiwa ini.

>>> Panduan Lengkap Main Game MAGER: Biar Lebih Cepat Cuan

Infeksi campak telah dikonfirmasi pada lebih dari 13.000 pasien. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa anak-anak di bawah usia 5 tahun menjadi korban utama.

Rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien. Puluhan keluarga terpaksa tinggal di koridor karena kekurangan tempat tidur.

Di satu rumah sakit, hampir 130 pasien dirawat di 32 ruangan.

Angka Kematian Mungkin Lebih Tinggi

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan kepada BBC bahwa jumlah kematian sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari yang dilaporkan.

Sistem kesehatan yang tertekan mengalami kesulitan parah dalam pengumpulan data.

Pemerintah Bangladesh bekerja sama dengan WHO dan UNICEF pada April 2026 meluncurkan kampanye vaksinasi campak dan rubella darurat yang menargetkan anak-anak kecil.

>>> FF Beta MOD: Risiko Keamanan dan Alternatif Resmi

Sebelumnya, Bangladesh memiliki cakupan vaksinasi campak di atas 90 persen. Namun, kebangkitan wabah saat ini berasal dari kesenjangan multi-tahun dalam sistem kesehatannya.

Anak-anak biasanya menerima vaksinasi pada usia 9 dan 15 bulan, didukung oleh kampanye catch-up nasional setiap empat tahun.

Kampanye catch-up ini terhenti sejak 2020 akibat pandemi COVID-19 dan ketidakstabilan politik domestik.

Mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina mengundurkan diri pada musim panas 2024 setelah berminggu-minggu protes mahasiswa yang menewaskan 1.400 orang.

Pemerintahan sementara yang dipimpin Muhammad Yunus kemudian mengambil alih dan memutuskan menghentikan pengadaan vaksin melalui UNICEF, yang memicu kelangkaan vaksin secara nasional.

>>> Mantan Kekasih Sherrone Moore Gugat University of Michigan soal Dokumen

UNICEF sebelumnya menjelaskan bahwa wabah besar sering kali disebabkan oleh kombinasi faktor yang saling memperparah. Bahkan gangguan kecil pada program imunisasi dapat menurunkan cakupan vaksinasi seiring waktu.