Setelah bertahun-tahun berganti aplikasi catatan di Android, seorang pengguna akhirnya menemukan sistem yang tepat: Obsidian.

Alasan utamanya adalah kepemilikan file. Obsidian menyimpan catatan sebagai file Markdown biasa di folder lokal, bukan dalam format proprietary atau cloud.

>>> SSD Portabel 1TB Verbatim Turun Harga Jadi $180, Solusi Backup Andal

Dari Aplikasi Catatan ke Obsidian

Pengguna tersebut telah mencoba berbagai aplikasi catatan, mulai dari yang sederhana hingga all-in-one workspace.

Siklus itu berakhir setelah mencoba Obsidian di Android dengan serius.

Meski butuh sedikit pengaturan, setelah semuanya berfungsi, ia menyadari mengapa banyak orang mengandalkan aplikasi ini.

Awalnya Ragu dengan Aplikasi Android

Di desktop, Obsidian adalah alat manajemen pengetahuan pribadi yang sangat kuat.

Namun selama bertahun-tahun, ia menghindari Obsidian di Android karena aplikasi mobile-nya terasa kurang memadai.

Aplikasi lama terasa kasar, sempit, dan terlalu sibuk untuk digunakan beberapa kali sehari.

Antarmuka terlihat usang dan navigasinya tidak semulus aplikasi Android modern lainnya.

Itu berubah setelah mencoba aplikasi Obsidian yang didesain ulang. UI baru terasa pas di ponsel, dengan elemen bawah membulat yang membuat perbedaan besar.

Kini, membuka Obsidian terasa lebih nyaman untuk pencatatan sehari-hari.

File Markdown Biasa Memberi Ketenangan

Salah satu alasan terbesar Obsidian cocok adalah pendekatannya terhadap file.

Catatan tidak tersembunyi dalam format proprietary atau terkunci di workspace web.

Mereka adalah file Markdown biasa di dalam folder. Artinya, tidak ada perusahaan yang bisa mengunci catatan atau menutup akses.

Untuk sistem yang ingin bertahan bertahun-tahun, itulah intinya.

Obsidian juga terasa lebih future-proof. Ide artikel, catatan riset, rencana perjalanan, pemikiran acak, dan proyek jangka panjang tetap berguna untuk waktu lama.