Membesarkan anak di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat banyak orang tua khawatir akan masa depan buah hati.

Sulit menebak profesi apa yang akan bertahan, sehingga nilai akademis saja tidak lagi cukup.

>>> Ramalan Zodiak 9 Juli 2026: 5 Zodiak Ini Beruntung di Karier dan Keuangan

Anak-anak membutuhkan fondasi yang lebih mendasar, yaitu kecintaan pada proses belajar itu sendiri. Konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat kini dipandang semakin esensial.

Menghadapi Dinamika Dunia Kerja

Dunia kerja di masa depan akan sangat berbeda.

Menurut Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, diperkirakan 170 juta lapangan kerja baru akan tercipta pada 2030, sementara 92 juta pekerjaan akan tergantikan oleh AI.

Sebanyak 40% kebutuhan keterampilan di dunia kerja akan berubah drastis. Laporan tersebut juga mencatat bahwa 66% pekerjaan di masa depan merupakan kolaborasi antara manusia dan teknologi.

Karena itu, anak perlu memiliki kompetensi yang tidak bisa direplikasi oleh mesin, seperti kreativitas dan kemampuan adaptasi.

Memacu Kemampuan Berpikir Kreatif

Tantangan di Indonesia cukup nyata.

Berdasarkan penilaian PISA 2022 yang dikutip UNICEF Indonesia, hanya 26% siswa berusia 15 tahun di tanah air yang mampu menunjukkan keterampilan pemikiran kreatif dasar.

Lebih mengejutkan lagi, hanya 5% yang mencapai tingkat tinggi. Padahal, kreativitas adalah keterampilan yang semakin dicari oleh pemberi kerja global dan harus ditanamkan sejak usia dini.

Untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, ada bekal spesifik yang perlu disiapkan.

>>> Gunung Kawi Terkenal dengan Apa? Ini Daya Tarik Alam, Mistis, dan Spiritual

Gentem Lifelong Learning Group mendefinisikan lifelong learning sebagai kombinasi dari empat keterampilan utama: komunikasi, pemikiran kritis, kolaborasi, dan kreativitas.