Kenaikan harga minyak Brent sekitar 5 persen setelah ketegangan di Timur Tengah juga memperbesar tekanan. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk impor energi.

Dolar AS kembali menguat karena ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini membuat mata uang negara berkembang sulit menguat secara berkelanjutan.

Dampak Pelemahan Rupiah

Rizal mengatakan rupiah yang bertahan di atas Rp18 ribu berisiko meningkatkan biaya impor, terutama energi, pangan, dan bahan baku industri.

>>> Momen Prancis Hajar Maroko 2-0 di Piala Dunia

Hal ini berpotensi mendorong inflasi.

"Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri meningkat, biaya produksi naik, ruang fiskal semakin terbatas, dan kepercayaan investor dapat melemah apabila depresiasi berlangsung berkepanjangan," ujar Rizal.

Josua menambahkan, dampak lainnya adalah kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat. Bahan baku impor, energi, obat, elektronik, mesin, hingga pangan impor akan menjadi lebih mahal.

Pada Juni 2026, inflasi tercatat mencapai 3,34 persen secara tahunan. Tekanan berasal dari transportasi, BBM nonsubsidi, pangan, serta kenaikan biaya input impor akibat pelemahan rupiah.

Pelemahan rupiah juga berpotensi membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Akibatnya, imbal hasil SBN tetap tinggi, biaya utang pemerintah naik, dan sektor riil bisa menahan investasi.

"Defisit APBN semester I 2026 masih terkendali di 0,76 persen PDB, tetapi risiko tetap ada karena pelemahan rupiah dan harga minyak dapat menaikkan tekanan belanja," ujar Josua.

Proyeksi Akhir Tahun

Rizal memproyeksikan hingga akhir 2026 rupiah masih berpotensi bergerak volatil di kisaran Rp17.800-Rp18.300 per dolar AS.

Peluang penguatan terbuka jika tekanan global mereda dan The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneternya.