Pertempuran Jutland pada 31 Mei-1 Juni 1916 adalah salah satu pertempuran laut terbesar dalam sejarah.

Sekitar 250 kapal dan 100.000 pelaut terlibat, dengan 25 kapal tenggelam dan lebih dari 8.500 orang tewas.

>>> Google Earth Pro Desktop Resmi Dihentikan, Pengguna Masih Punya Waktu

Namun, lebih dari seabad kemudian, bangkai kapal tersebut menjadi perhatian baru.

Para ilmuwan khawatir bahan bakar, logam, dan amunisi yang masih tersimpan di dasar laut dapat mencemari ekosistem laut.

Latar Belakang Pertempuran

Jerman membangun armada perang untuk menantang dominasi Inggris di laut. Kaisar Wilhelm II percaya kapal perang bisa memberi Jerman 'tempat di bawah matahari'.

Namun, Inggris tidak terpancing. Royal Navy mempertahankan blokade yang menekan pasokan Jerman.

Jerman pun merencanakan jebakan di Skagerrak.

Laksamana Reinhard Scheer mengirim kapal penjelajah di bawah Franz Hipper untuk memancing sebagian armada Inggris. Namun, Inggris sudah mendapat peringatan dari unit pemecah kode Room 40.

Pertempuran awal berlangsung brutal. Kapal penjelajah Inggris HMS Indefatigable, HMS Queen Mary, dan HMS Invincible meledak dan tenggelam dalam hitungan menit.

Laksamana David Beatty berkomentar, 'Sepertinya ada yang salah dengan kapal kita hari ini.' Kapal Inggris memang lebih cepat tetapi perlindungannya lebih lemah.

Kemenangan Taktis vs Strategis

Secara taktis, Jerman unggul: Inggris kehilangan lebih banyak kapal dan pelaut. Namun secara strategis, Royal Navy tetap menguasai Laut Utara dan blokade tetap berjalan.

Setelah Jutland, Jerman beralih ke perang kapal selam tanpa batas. Langkah ini mendorong Amerika Serikat masuk Perang Dunia I pada 1917.

>>> Meta Perbarui Kacamata Pintar untuk Cegah Rekam Diam-diam, Keamanan Wanita Masih Jadi Sorotan