Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah salah menyebut nama Iran dalam konferensi pers bilateral dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Insiden itu terjadi pada 8 Juli 2026 di Turki, menjelang KTT NATO.

>>> Saham Palantir Turun 37,5% Meski Pendapatan Kuartal I 2026 Tumbuh 85%

Saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai serangan militer AS terhadap Iran, Trump berkata, "Kami meluncurkan 111 rudal yang ditembakkan oleh Republik Islam Jepang."

Pernyataan tersebut langsung menuai kritik tajam di media sosial. Jurnalis independen Alex Cole menulis, "Republik Islam Jepang?

Pikirannya sudah hilang."

Cole yang memiliki lebih dari 326.000 pengikut di X menambahkan bahwa sudah waktunya Trump menjalani tes kognitif.

Mantan anggota Kongres Partai Republik dari Illinois, Joe Walsh, juga bereaksi dengan menulis "Amandemen ke-25" dalam unggahannya, merujuk pada mekanisme konstitusional untuk memberhentikan presiden yang dianggap tidak mampu.

>>> Ubisoft Rilis Assassin's Creed Black Flag Resynced dengan Visual dan Mekanik Baru

Komentator liberal Joanne Carducci, yang memiliki lebih dari satu juta pengikut di X, menyoroti standar ganda pemberitaan media.

"Sesuatu tentang kognitif Joe Biden, sesuatu tentang itu," tulisnya.

Wartawan politik Rolling Stone, Nikki McCann Ramírez, mengingatkan liputan media yang intens saat Presiden Joe Biden keliru membedakan Meksiko dan Mesir.

"Saya ingat betul siklus berita seminggu penuh saat Biden bingung antara Meksiko dan Mesir," katanya.

>>> Wanita Tertidur di Belakang Kemudi Tesla saat Melaju di Jalan Tol, Polisi Selidiki

Menurut laporan Raw Story, Trump juga melakukan beberapa kesalahan lain dalam sesi pers tersebut, termasuk salah menyebut nama Zelenskyy dan kesulitan memahami pertanyaan wartawan.