Idealnya di usia segini, Ronaldo berperan sebagai poacher efektif yang memaksimalkan sedikit peluang di kotak penalti.

Erling Haaland menjadi contoh: hanya tiga sentuhan di kotak penalti saat lawan Brasil, namun mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 Norwegia.

Sayangnya Ronaldo bukan tipe striker tunggal sejak awal karier, sehingga adaptasi penuh ke peran poacher murni tidak semudah itu terjadi di usia senja.

Di sisi lain, minimnya suplai bola juga menjadi masalah nyata.

Rekan-rekan seperti Bruno Fernandes, Vitinha, dan Joao Neves tampak enggan mengambil risiko mengirim umpan kecuali posisi Ronaldo benar-benar lowong dari kawalan.

Bandingkan dengan Haaland yang tetap menyentuh bola 30 kali sepanjang laga kontra Brasil meski hanya tiga kali di kotak penalti.

Artinya, penyerang Manchester City itu tetap dilibatkan rekan setim, sedangkan Ronaldo relatif terisolasi dari aliran bola.

Taktik Portugal dan Kegagalan Martinez

Dari sisi taktik, Portugal sebenarnya tampil disiplin kontra Spanyol. Skema 4-4-2 diterapkan untuk mematikan ruang tengah sekaligus meredam pengaruh Rodri sebagai gelandang jangkar Spanyol.

Bek tengah Portugal juga tampil agresif.

>>> Kasatgas Tinjau Jalan Werlah di Bener Meriah, Siapkan Jalur Alternatif

Ruben Dias dan Renato Veiga kerap keluar dari garis pertahanan untuk menekan lebih dini pemain lawan yang menerima bola di antara lini.

Di sisi sayap, upaya La Furia Roja mengisolasi Lamine Yamal dalam duel satu lawan satu diredam Nuno Mendes yang ketat mengawal, dibantu Joao Felix yang rutin turun membantu menutup ruang gerak remaja Barcelona itu.

Dalam skema serangan, Vitinha dan Joao Neves berperan sebagai deep-lying playmaker, sementara Bruno Fernandes kerap bergeser ke sisi kiri membentuk segitiga umpan bersama Mendes untuk membangun serangan lewat operan cepat satu-dua sentuhan.