Saat ini harga dari supplier sekitar Rp23 ribu hingga Rp23.500 per kg, kemudian ia jual seharga Rp25 ribu per kg.

>>> Modus Korupsi Batu Bara: Kualitas dan Kuantitas Dimanipulasi, Picu Blackout

"Semuanya kembali ke kemampuan beli masyarakat aja. Lagipula kalau nanti semisal dari supplier harganya naik, ya pesaing di lapangan jadi sedikit," kata Andri.

Meski begitu, Andri mengakui penjualan telur saat ini terbilang turun karena banyaknya pesaing. Harga telur sedang murah lantaran stok melimpah, sehingga banyak bermunculan pedagang telur di luar pasar.

"Semisal harga lagi murah kayak sekarang, itu banyak yang jual sampe ke warung-warung kecil pinggir jalan, pasti banyak stok.

Beda lagi kalau nanti harga naik, pasti stok mereka cenderung sedikit, nah masyarakat larinya pada ke pasar," cerita Andri.

Respons serupa juga disampaikan oleh pedagang ayam pedaging dan telur ayam ras di Pasar Klender, Jakarta Timur.

Fajar, penjual ayam di pasar tersebut, khawatir penjualan akan menurun apabila harga dari supplier atau peternak naik.

Ia kemungkinan akan terpaksa mengurangi stok harian jika nanti harganya naik karena pembeli juga pasti berkurang.

"Pastinya khawatir (penjualan turun) sih, udah kondisi ekonomi masyarakat juga lagi lesu kan. Nanti saya siasatinya ngurangin jumlah ayam yang saya jual tiap harinya," ungkapnya.

Raden, penjual berbagai telur di Pasar Klender, Jakarta Timur, mengeluhkan penjualan telur ayam ras tengah menurun meski harga dari peternak sedang murah.

"Walah, ini pasar aja cenderung sepi, biasanya saya sehari bisa laku 20 kg sampe 25 kg lah kurang lebih, sekarang laku 15 kg juga udah hamdallah," cerita Andri.

>>> Swadharma Bhakti Nagara: 80 Tahun BNI Bersama Negeri

"Padahal harga telur lagi murah kan, nggak tahu deh ya nanti kalo sudah naik lagi. Harap-harap cemas saja saya mah," pungkasnya.